Love Hate Relationship

"Ngapain kamu di sini?" Giana duduk bersila di dekat Ariani yang tengah memakan sarapan. Matanya menatap datar pada Erina yang juga tengah makan. Ariani mencubit[....]

Read More

Mission Accomplished

"Kakak gak video-in mukanya Om Jordy pas penangkapan kemarin?" Giana merapikan masker wajah milik Ariani. Kini, mereka tengah melakukan perawatan kulit di rumah kecil[....]

Read More

Terpancing

Giana menelusuri koridor ramai dengan amarah yang menggelegak. Di tangan kirinya terdapat selembar kertas beserta sebuah amplop pink yang sudah kusut. Kakinya melangkah[....]

Read More

Amplop Pink

Giana menghela napas berat begitu matanya menangkap gerbang sekolah. Hari ini, hari pertama ia menjadi siswa kelas XII dan rasanya ia sangat malas. Walau semua urusannya[....]

Read More

Barang Bukti

"Na, ini titipan temen kamu." Ariani menyodorkan bungkusan hitam itu pada adiknya. Aura panas masih meliputi sang adik hingga ia pun menepuk bahu adiknya pelan. "Dia kan[....]

Read More

Mencurigakan

"Kenapa Om bantuin kami?" Giana tak bisa tak mencurigai asisten Jordy—Hendy. "Aku yang minta sama Papa buat bantuin kamu," potong sebuah suara yang amat sangat dikenali[....]

Read More

Kabur

Mata Jordy bergerak liar menatap satu per satu pria yang ada di sana. Sementara para pria bersetelan hitam itu saling melirik tak percaya. Giana mengeluarkan pisau lipat[....]

Read More

Serangan Balasan

Pria itu menarik kuat rambut Giana hingga kepalanya mendongak ke belakang. Ariani menggeleng kuat serta memohon-mohon agar sang adik tak dilukai. Akan tetapi, pria itu[....]

Read More

Tertangkap

Giana memberontak hebat. Ia menggerakkan seluruh tubuhnya dengan kuat. Tangannya terkepal. "Dasar Iblis! Apa yang mau kamu lakukan?!" hardiknya marah saat tangan kekar[....]

Read More

Sembunyi

Ariani mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang mendesak masuk. Setelah beberapa saat, matanya terbuka sempurna. Tubuhnya mendadak[....]

Read More

(Bukan) Mimpi

Ariani merasakan guncangan hebat pada tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuhnya bergerak dengan cepat, tetapi bukan karena kakinya sendiri. Kelopak matanya yang tertutup, perlahan[....]

Read More

Ayo Tidur!

Seorang gadis menggeliat kecil di sebuah ruangan gelap. Matanya meneliti ruangan tersebut dengan saksama. Di sudut ruangan terdapat sebuah lemari, di tengah ruangan terdapat[....]

Read More

Hilang

"Anakmu?" Danu mengikuti pandangan Jeffrey pada Ariani yang ada di belakangnya. Perlahan, kepalanya menggeleng. Aura sendu menyeliputinya membuat Jeffrey menampilkan mimik[....]

Read More

Bertemu

Rasa gelisah semakin mencekik Ariani begitu terbangun dari mimpinya. Kakinya mengayun cepat menuju kamar sang ayah. Ariani menggedor pintu itu dengan heboh. "Om! Om Danu!"Ariani[....]

Read More

Selamat Ulang Tahun

Ariani meringkuk di atas kasur Giana,  kepalanya menempel pada bantal yang biasa digunakan oleh Giana. Sebelum air matanya meluncur, ia menyekanya dengan cepat. Matanya[....]

Read More

Bebas

"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Giana?"Danu menghela napas panjang. Ia tahu, ia tak bisa lagi menyembunyikannya dari Ariani sesuai permintaan Giana. "Dia hanya bilang,[....]

Read More

Belum Pulang

Ariani mengetuk-ngetuk jarinya gusar. Pagi sudah tiba, tetapi sang adik pun belum sampai rumah. Selaman ia bersama Danu menunggu kepulangan sang adik. Namun, tak terlihat[....]

Read More

Hilang

Ariani menghela napas gusar. Sudah pukul 9 malam, tetapi Giana masih belum pulang. Kakinya bergerak gelisah dengan kedua tangan bersidekap di depan dada. Berulang kali[....]

Read More

Om Danu

Giana menyeruput coklatnya seraya bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang dimainkan di cafe itu.  Jemari kurus itu mengetuk permukaan meja kayu tersebut dengan[....]

Read More

Pesta

Giana menuangkan isi kresek yang ia dapatkan dari hasil belanja barusan. Berbagai macam snack, roti, coklat, dan permen jatuh berserakan di atas meja. Ariani yang baru[....]

Read More

Jalan Buntu

Giana meremas kertas penuh coretan itu dengan geram. "Dasar! Jalan buntu!" keluhnya sebal. Tangannya terulur ke bawah kasur. Dikeluarkannya buku coklat itu dan ditatapnya[....]

Read More

Buku Coklat

Ariani mendaratkan bokongnya di atas kasur Giana. Giana menghentikan kegiatan menghapal dan melirik kakaknya sejenak. Setelahnya, ia kembali melanjutkan kegiatannya yang[....]

Read More

Sweet Home

Giana mendesah lega begitu badannya yang kaku menempel sempurna di kasurnya. "Memang kasur sendiri itu yang paling nyaman," desahnya sebelum terbang menuju alam mimpi. Sebuah[....]

Read More

Main Air

Giana lagi-lagi hanya bisa menghela napas lelah. Entah sudah berapa kali ia pergi ke sungai terdekat untuk mengambil air. Dan selalu, saat ia kembali dari mengambil air.[....]

Read More

Ngebucin Aja

Giana mengambil buku bersampul coklat miliknya dan menatapnya beberapa lama. Menimbang apakah harus ia bawa ke mana-mana ataukah lebih baik ditinggal di rumah saja. Namun,[....]

Read More

Kumpulan Bukti

Ariani mengintip dari balik celah pintu kamar yang tak tertutup rapat. Rasa penasaran mendorong kakinya melangkah masuk diam-diam. Ia menghampiri adiknya yang tengah sibuk[....]

Read More

Shower Alami

Giana yang masih berkutat dengan buku coklatnya, menatap ke luar jendela. Keningnya berkerut saat melihat tetes air yang menempel pada jendelanya. "Hujan," gumamnya kecil.[....]

Read More

Selembar Memori

Giana membongkar album foto yang mengabadikan momen-momennya bersama sang ayah. Kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat selembar memori yang memuat dirinya saat masih[....]

Read More

Tersesat

Giana menghela napas lelah. Matanya menekuri selembar formulir itu dengan malas hingga sebuah suara menegurnya. "Hei, anak pembunuh! Kamu jangan ikut! Siapa tahu[....]

Read More

Kenangan

Ariani mengintip dari balik celah pintu kamar sang adik. Ia melihat adiknya lagi-lagi sibuk dengan buku tua bersampul coklat itu. Samar-samar, memorinya mengatakan bahwa[....]

Read More

Kliping

Tangan kurus itu aktif menggunting kertas beberapa lembar kertas warna-warni berisi tulisan, lalu menempelkannya pada bukunya. Senyum kecilnya terkembang puas saat melihat[....]

Read More