Tampilkan postingan dengan label JurnalHydra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JurnalHydra. Tampilkan semua postingan

 

Terima kasih, sebuah ungkapan yang ditujukan kepada seseorang atas rasa bersyukurnya kita karena telah ditolong. Terkadang, orang-orang menyepelekan ungkapan ini. Padahal, ungkapan ini sangatlah berarti bagi beberapa orang—atau mungkin banyak.

 

Thank you, Me!

Hello, Me!
Gimana kabar kamu? Lelah, ya? Pasti capek, ‘kan? Iya, sabar, ya. Sebentar lagi. Cuma aku gak bisa bilang mau sampai kapan sebentar itu. Pokoknya, ayo berjuang sebentar lagi.

Ayo, kita berjuang yang rajin biar nanti semua rasa lelah kita bisa terbayarkan.

Kemaren Elsa pernah tanya, ya? Kapan aku gak sibuk. Terus jawaban aku “mungkin saat aku mati nanti.”

Ayo kita berdoa supaya itu gak terjadi. Aku kan juga mau ongkang-ongkang kaki sambil nerima uang. Wkwkwkw
Hei!

Aku mau bilang, makasih karena sudah berjuang sejauh ini. Karena sudah sejauh ini, gimana kalau kita jalan lebih jauh lagi. Jalan yang jauhhhhhhhhhhhh banget sampai kita nemuin pada bunga buat diri kita sendiri.

Jangan khawatir, nanti kalau keadaannya sudah agak membaik. Mari kita bersenang-senang, beli apa pun yang kamu mau. Entah itu tas atau jaket atau mungkin makanan.

Ayo berjuang sebentar dan jebol ke platform berbayar biar bisa nabung lebih banyak. Ah, terima kasih karena sudah mulai konsisten nulis biar bisa nambah-nambah tabungan ya.

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke5
#day15
#15daysjournalingchallenge

 

Di dalam hidup ini pasti selalu saja ada keadaan yang membuat kita jatuh. Kemudian, kita akan memilih untuk menyerah dalam segala hal. Termasuk pada hidup. Bila ditanya, apakah aku pernah mengalami hal tersebut? Aku akan menjawab sering.

 

Menyerah dengan Hidup

Setidaknya, pasti ada satu kali dalam hidupku aku pernah berpikir untuk menyerah akan semuanya. Yah, bukan sekali sebenarnya, sudah sering. Bahkan, di saat sekarang, saat aku menulis ini, aku berpikir untu menyerah akan segalanya.

Aku lelah dan capek akan semuanya. Padahal tak begitu banyak kegiatan yang aku lakukan, tetapi rasanya tubuh ini hampir copot semua. Hal-hal yang biasanya menyenangkan pun kini terlihat tak begitu menyenangkan lagi.

Setiap hari hanya ada pikiran-pikiran negatif yang datang untuk bertamu. Bukan hanya itu saja, mereka pun bahkan dengan seenaknya menguasai semuanya hingga semua keadaan dan semua orang terlihat buruk di mataku.

Aku selalu ingin menyerah akan semuanya. Apalagi ketika orang-orang mengatakan “tidak bisa” padaku. Padahal, aku yakin aku bisa. Namun, karena tak ada yang mendukung. Semuanya terasa semakin berat.

Saking beratnya, aku sampai berpikir, “Apakah aku memang segitu tak layakkah? Kalau begitu, buat apa aku hidup kalau semuanya tidak bisa aku lakukan atau aku kerjakan?”

Pada dasarnya, aku memang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Aku juga tak meminta bantuan kalian untuk membantuku mencapai semua tujuanku. Aku hanya ingin setidaknya kalian tidak menjatuhkanku kalau memang tidak ingin mendukungku.

Apa untungnya bagi kalian untuk menjatuhkanku? Aku tahu kalau aku yang berpikir bahwa aku hanya berdiri di tempat karena kalian itu sama sekali tidak benar. Pada dasarnya, aku memang pengecut yang tak bisa melakukan apa pun.

Namun, ada yang pernah mengatakan bahwa selama kita masih bernapas. Itu artinya kita masih diberikan kesempatan untuk melakukan apa yang akan kita lakukan. Melakukan apa yang kita inginkan dan gagal akan lebih berarti daripada duduk sambil menunggu kematian datang menjemput.

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke5
#day14
#15daysjournalingchallenge

 


Semua orang pasti akan menilai orang-orang yang ditemuinya. Begitu pula denganmu dan aku. Aku menilai dirimu dan dirimu menilai diriku. Itu adalah hal yang sangat wajar. Lantas, apa masalahnya?

Apakah penilaian orang lain terhadap dirimu atau diriku itu benar adanya? Ya, walaupun hal seperti ini tidak ada benar atau salahnya. Tentu saja tidak ada karena ini bukanlah ujian matematika yang jawabannya hanya satu.

Manusia itu abu-abu, tak ada yang 100% hitam dan juga tak ada yang 100% putih. Memang ada yang lebih condong ke putih atau hitam, tetapi bukan berarti mereka sepenuhnya hitam atau putih. Pasti ada sedikit saja warna putih di dalam hitam atau hitam di dalam putih.

Penilaian Orang Terhadapku

Setiap orang menilaiku sebagai pribadi yang berbeda-beda karena aku selalu memperlakukan orang lain sebagaimana orang lain memperlakukanku. Aku rasa, itu yang kalian sebut dengan banyak muka atau muka dua atau sebutan lainnya. Akan tetapi, bagiku itu berbeda. Itu bukanlah muka dua atau apa pun. Terserah kalian mau menganggap itu pembelaan atau apa, aku tidak begitu peduli.

Di Mata Orang Tua

Di mata kedua orang tuaku, aku dianggap sebagai anak pemalas dan pembangkang. Aku tak tahu mengapa, tetapi aku sering kali tergoda untuk membangkang setiap kali mereka memintaku untuk melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti mengapa aku melakukan hal tersebut. Entah mungkin hanya karena ingin perhatian lebih dari mereka atau bukan.

Yah, aku memang sering kali mengatakan aku tidak peduli bahwa mereka menyayangiku ataukah tidak. Namun, saat kecil, aku juga ingin diperhatikan sedikit oleh mereka. Aku selalu merasa bahwa mereka jarang memperhatikanku karena mereka lebih menyayangi kakak atau adikku. Mungkin karena keinginan masa kecil yang tak tercapai itu aku lebih sering membangkang. Akan tetapi, sekarang sudah tidak begitu lagi.

Aku lebih sering memilih untuk mendiamkan kedua orang tuaku ketika aku sedang lelah pada mereka. Aku lebih senang dengan perilaku seperti orang asing yang saat ini kami jalani.

Di Mata Teman

Nah, untuk ini sangatlah banyak. Ada yang menganggapku judes, frontal, bermulut pedas, cuek. Untuk ini, aku mengakuinya. Semua itu benar. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa aku lebih senang sesuatu yang praktis.

Tentu saja. Siapa yang tak senang dengan sesuatu yang praktis. Hal itu tidak merepotkan dan bisa mempersingkat waktu sehingga waktuku untuk bermalas-malasan bisa lebih panjang.

Namun, ada satu penilaian yang menurutku kurang cocok. Aku mengenal seorang teman dari sebuah grup kepenulisan dan ia mengatakan bahwa aku adalah orang yang lucu. Sebelumnya, aku belum pernah mendengar hal itu dan aku rasa image lucu sama sekali tak pantas bersanding denganku.

 

Yah, apa pun penilaian orang terhadapku. Tidak ada dari penilaian tersebut benar ataupun salah. Semuanya benar karena begitulah image-ku tercipta di mata mereka. Aku hanya menyesuaikan perilakuku dengan perilaku mereka sehingga apa yang mereka dapatkan pasti selalu berbeda-beda.

Terkadang, aku bersikap kekanakan pada orang yang kenakan. Aku juga bisa bertingkah menyebalkan pada orang yang menyebalkan. Di lain waktu, aku bisa bertingkah dewasa ketika orang-orang bersikap dewasa. Apa pun itu, memang begitulah caraku membawa diri dalam pergaulan. Mungkin di mata beberapa orang aku itu palsu. Akan tetapi, bagiku itu adalah diriku yang asli. Tergantung sikap dan sifat seperti apa saja yang bisa kalian pancing untuk aku keluarkan saat bersama kalian.

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke4
#day13
#15daysjournalingchallenge

 


 


Status
Di dunia ini, ada beberapa jenis status, seperti in relationship atau sedang pacaran, menikah, cerai, lajang, dan lain-lain. Setiap orang, pasti memiliki statusnya masing-masing. Entah itu karena pilihan atau karena terpaksa. (Eits! Canda dong aku. Jangan sensi banget!)

 

Single Forever

Single atau sendiri. Begitulah statusku saat ini. Dan menurutku, begitu pula statusku untuk ke depannya nanti.

Menurutku, sendiri itu bebas dan tidak terkekang. Aku tak tahu bagaimana bisa, tetapi, selama ini aku selalu merasa aku hidup dalam pengekangan. Dan ke depannya, aku tak ingin seperti itu lagi.

Di mataku, menjalin hubungan, itu berarti aku menyiapkan sangkar lainnya. Aku tak ingin keluar dari sangkar sekarang hanya demi masuk ke sangkar lainnya. Aku ingin hidup dengan bebas.

Mungkin, banyak yang mengatakan bahwa ini adalah keputusan bodoh dan ceroboh. Akan tetapi, siapa yang peduli. Aku yang menjalani ini semua. Bukan kamu, dia, atau mereka. Hanya aku. Jadi, yang harus mengambil keputusan sendiri di sini adalah aku seorang. Aku tak ingin terombang-ambing karena keputusan yang dipilihkan oleh orang lain.

Oleh karena itu, untuk sementara, aku memilih untuk menjadi single forever. Bila tak ada perubahan apa pun, aku akan tetap menjadi wanita single yang bahagia.

Apakah kalian bingung dengan kata ‘untuk sementara’? Pasti bingung, ‘kan? Itu karena aku sempat berjanji pada ibuku bahwa bila suatu saat nanti ada pria yang datang padaku dan melamarku, lalu kami berdua cocok. Aku akan menerimanya. Tentu saja dengan pertimbangan bahwa ia mengerti diriku. Atau seminimalnya, dia akan mencoba untuk mengerti diriku sebelum menghakimiku macam-macam terlebih dahulu.

 

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke3
#day11
#15daysjournalingchallenge


 


Insecure merupakan perasaan tidak percaya diri pada diri seseorang. Pasti ada satu dari seluruh hal yang dimiliki oleh kita yang membuat kita merasa kurang percaya diri untuk bisa bersaing dengan seseorang. Bahkan, bila orang yang sudah terlihat sempurna di mata kita saja, terkadang bisa merasa insecure dengan dirinya sendiri.

 

Hal yang Membuatku Insecure

Bagi diriku yang tidak cantik, tentu saja penampilan bisa membuatku merasa kurang percaya diri. Apalagi ketika aku harus menghadiri acara yang harus menonjolkan kecantikan. Namun, ketika aku berada di tempat umum di mana penampilan tidak begitu dipedulikan. Aku merasa nyaman-nyaman saja.

Selain itu, aku juga masuk ke dalam kategori orang yang pendek. Bertubuh pendek memang memiliki banyak kelebihan, tetapi juga memiliki banyak kekurangan. Yah, walau sebenarnya sama saja karena orang-orang bertubuh tinggi pun memiliki banyak kelebihan dan kekurangan. Namun, melihat orang-orang yang bertubuh tinggi, aku pun merasa iri dan tidak pede pada penampilanku. Sering kali aku berharap, seandainya aku lebih tinggi lagi beberapa sentimeter, yang tentunya tak mungkin lagi terjadi.

Namun, ada satu hal yang membuat diriku semakin jatuh percaya dirinya. Ketika, semua orang meragukan kemampuanku. Walau aku sendiri yakin bahwa aku bisa melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja muncul pemikiran mengenai bagaimana bila aku melakukannya dengan tidak baik? Atau hal-hal yang lainnya.

Pemikiran negative hasil dari doktrin luar. Selain itu, ada sebagian dari diriku yang merasa bahwa bila ia meragukanku, bagaimana bila aku membuatnya kesal dengan cara aku menghancurkan semuanya? Apakah dengan begitu aku bisa merasa puas karena menganggap diriku sudah membalaskan dendamku?

Yah, terkadang—tidak, sering kali—pemikiran tersebut muncul. Dan memang ada saat-saat di mana aku ingin melakukan hal jahat tersebut. Contohnya adalah di saat ini, saat sekarang. Aku tidak begitu peduli dengan image-ku yang tercipta di mata orang lain karena aku memang bisa menciptakan impresi yang berbeda-beda pada orang yang berbeda pula. Jadi, aku tak begitu mempermasalahkannya.

Hancur di depan satu orang, bukan berarti aku bisa hancur di depan semua orang, ‘kan? Aku tahu bahwa pemikiran ini tidak normal, tetapi memang begitulah adanya. Aku tak senang ketika orang meremehkanku, dan caraku membalas mereka adalah dengan membuat kebalikannya atau malah membenarkan kekhawatiran mereka. Tergantung situasi yang kuhadapi.

 

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke3
#15daysjournalingchallenge
#day9


 


Hal yang Menarik di Kehidupanku

Dalam hidup, tentu saja ada saja kejadian menarik yang terjadi. Pasti semua orang pernah mengalami hal itu, tak terkecuali aku. Dan itu akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan.

 

Di Masa Sekolah

Semasa sekolah, aku sering tak belajar. Modalku untuk bisa melewati ujian adalah dengan cara mendengarkan guru menerangkan. Walau tentunya, harus dibantu dengan membaca catatan.

Nah! Semasa sekolah—tidak, bahkan sampai sekarang—aku adalah orang yang sangat amat pemalas. Aku sering mencatat apa yang dijelaskan oleh guru-guru. Jadwal ujian juga tak pernah terlewatkan di dalam catatan tersebut. Namun, hanya sekedar itu saja. Aku senang mencatat agar tak melupakan semuanya, tetapi aku tak pernah membuka kembali catatan tersebut.

Jadi, sewaktu hari ujian tiba dan guru mengatakan, “Keluarkan kertas ujian kalian semua.”

Dari sanalah aku mulai sibuk beradu mulut dengan sang guru dan menanyakan apa memang sudah waktunya ujian? Tentu saja memang benar. Namun, itu hanya dalihku saja agar aku mendapatkan waktu untuk mengulang pelajaran sebanyak yang aku bisa. Sembari mengajak guruku untuk berbicara, aku mengulangi semua yang ada di catatanku agar aku bisa mendapatkan nilai. Dan untungnya, nilai yang kudapatkan tidak jelek-jelek amat; tidak merah, namun juga tak terlalu tinggi.

 

Di Masa Kuliah

Yah, bisa di bilang ini pengalaman sebelum kuliah. Waktu itu, aku masih terombang ambing ingin mendaftar jurusan apa dan di universitas mana. Akhirnya, pilihanku jatuh di sebuah Sekolah Tinggi di salah satu komplek perumahan yang cukup terkenal di Medan. Alasanku memilih sekolah tinggi itu hanyalah satu, tak ada murid lain dari sekolahku yang mendaftar ke sana.

Iya, hanya itu alasannya. Tak ada alasan lainnya. Lalu, untuk jurusannya sendiri. Di sana terdapat 3 jurusan utama; komputer, ekonomi, dan bahasa. Berhubung aku bodoh dalam bahasa dan membenci ekonomi, pilihanku jatuh pada komputer. Jurusan ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu Sistem Informasi dan Teknik Informasi.

Aku ingat kalau anak Teknik Informatika bisa membuat robot dan karena aku tertarik dengan ilmu itu, tanpa pikir panjang pun aku langsung mendaftar ke jurusan tersebut. Akan tetapi, aku malah ditertawai oleh bagian akademik tersebut. Mereka pun menjelaskan bahwa di sekolah tinggi tersebut mahasiswa teknik informatika tidak pernah ada mahasiswa cewek. Akhirnya, aku pun harus mengalihkan jurusanku ke sistem informasi.

 

Sepertinya sekian saja dulu untuk hal-hal yang menarik dalam hidupku. Selebihnya, akan kuceritakan lagi di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Kalau kalian juga ada, silakan share di kolom komentar, ya.

 

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke3
#15daysjournalingchallenge
#day8



Saat Sedang Marah

Kalau misalnya pertanyaan ini diajukan padaku beberapa tahun sebelumnya, mungkin jawabanku 1; membentak. Atau yang lebih parahnya lagi, aku bisa bermain tangan. Akan tetapi, untuk saat ini aku hanya diam saja.

Ya, kalian tidak salah baca. Saat marah—untuk sekarang—aku lebih sering diam, lalu pergi dari tempat yang membuatku marah dan meninggalkan orang yang membuatku marah.

Bagiku, membentak dan memukul hanyalah membuang-buang energy. Maka dari itu, sekarang aku tak melakukannya lagi. Aku lebih memilih untuk menyimpan energiku untuk hal yang lain yang lebih berguna. Bukannya, mengomel, membentak, dan memukul tak jelas. Mungkin terkadang aku memang akan membentak di awal, tetapi setelah bentakan pertama, aku akan diam saja.

Setelah Diam?

Setelah diam, aku akan menyumpal telingaku dengan earphone. Kemudian, memutar lagu dengan volume full. Aku sadar tindakan ini salah, tetapi aku tak bisa menghentikannya. Karena lagu bisa menenangkan amarah yang tengah meluap-luap. Dengan bernyanyi atau mendengarkan lagu keras-keras, bisa membuatku mengalihkan emosi yang negative menjadi netral.

 

 

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke2



Bagiku, musik itu penghiburan yang luar biasa. Di kala senang, maupun sedih, aku suka mendengar musik. Musik pun bisa memperbaiki mood-ku yang berantakan. Saat aku malas pun, aku suka memutar musik dan bernyanyi sendirian seperti orang gila.

 

3 Lagu yang Kusukai

Kalau ditanya lagu yang kusukai, ini pertanyaan yang sulit. Aku senang mendengar lagu, tetapi aku tak bisa mendengarkan lagu tersebut dalam jangka waktu yang sangat panjang. Jadi, bisa dibilang, aku suka dengar, tetapi tak ada yang benar-benar aku sukai hingga bisa terus-menerus kudengarkan dalam jangka panjang.

Namun, untuk saat ini, mungkin 3 lagu ini yang masih menempati peringkat 3 besar di dalam hatiku.

Mark Tuan – My Life

Lagu dari salah satu member GOT7 ini baru dirilis 1 bulan yang lalu, jadi aku masih sering mendengarnya karena belum kuhapus dari playlistku. Lagu ini liriknya cukup nyesek kalau kataku.

Bagian yang paling kusuka adalah ketika ia menyanyikan lirik :
How could somebody look at me
And think that I’m happy?
I haven’t been laughing
Too much anymore

Aku tak tahu, tetapi menurutku, ini sangat menggambarkan perasaanku sekarang dan juga di waktu-waktu yang lewat. Orang-orang sering mengatakan bahwa, “Hidup kamu senang lah” atau “Kamu enak, ya, gak punya beban.”. Padahal mereka tak tahu apa-apa.

 

Youngjae – Walk With Me
Lagi-lagi ada lagu dari member GOT7 di sini. Lagu ini sudah dirilis cukup lama, yaitu bulan Desember kemarin. Aku menyukainya karena suara Youngjae memang merdu.

Bagian yang paling kusuka di lagu ini adalah :

Han georeumman deo dagawa jwoyo
Jeogeumman aju jeogeumman deo geudael gakkai bogo sipeo
Idaero uri maju bomyeo hamkke halkkayo
Nae soneul japgo gachi georeogajwoyo

Yang berarti :

Please take one step closer to me
All I want is to see you just a little closer
Shall we look each other’s eyes
Please take my hand, walk with me

Aku sengaja pakai arti Bahasa Inggris karena lebih kena aja. Kalau pakai Bahasa Indonesia, rasanya agak kurang romantis gitu. Lagu ini sangat romantis, apalagi di MV kali ini juga Youngjae terlihat ganteng (ekhm).

Jinyoug – Dive

Lagi-lagi, ini karya member GOT7. Lagu yang sudah dirilis sejak Juli kemarin ini, sudah sering aku dengar. Namun, karena memang sudah lama aku tidak update lagu baru dan sekarang aku juga lebih sering mendengarkan lagu yang diputar oleh orang lain. Lagu ini akan masuk sebagai lagu terakhir di daftar ini.

Sebenarnya, tak ada alasan khusus mengapa aku menyukai lagu ini. Aku menyukainya karena menyukai suara Jinyoung saja. Itu saja. Walau aku juga suka liriknya, tetapi hal pertama yang membuatku jatuh cinta pada lagu ini karena musiknya yang enak.

 

Sepertinya sekian saja 3 judul lagu yang aku sukai akhir-akhir ini. Mohon maklum, walau aku mendengar lagu setiap hari, tetapi bukan aku yang memutarnya. Selain itu, aku juga terlalu malas untuk mencari tahu mengenai lagu baru.

 

#15daysjournalingchallenge
#day4
#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke1



Dalam kehidupan sosial, kita bertemu dengan berbagai macam jenis orang serta berbagai jenis keadaan. Ada keadaan yang membuat kita merasa senang dan nyaman, ada pula keadaan yang kita rasa biasa-biasa saja. Dan, tentu saja, ada keadaan yang bisa membuat kita merasa tidak nyaman.

3 Hal yang Membuatku Tidak Nyaman

Kalau kita memang ingin mempunyai banyak relasi. Hal ini tak akan bisa terhindari. Walau begitu, kita tetap harus menahannya demi rasa profesional.

Saat Ada yang Bertanya Aku Etnis Apa

Bukannya aku ingin mengangkat topik sensitif di sini. Akan tetapi, memang begitulah kenyataannya. Aku akan sangat tidak nyaman ketika ada orang-orang yang mengatakan bahwa aku dari etnis A atau B. Aku tak akan menyebutkannya secara gamblang.

Ada beberapa kejadian yang sejujurnya membuatku takut berhubungan dengan ini. Dan hal itu sering terjadi semasa aku sekolah. Bahkan, seringkali aku harus berhenti di tengah jalan karena merasa takut.

Banyak yang tak percaya saat aku mengatakan bahwa aku orang Indonesia. Padahal, memang seperti itulah kenyatannya. Namun, banyak yang tak menerimanya. Awalnya, aku mengabaikan mereka. Namun, lama-kelamaan orang yang bertanya semakin menjadi dan malah menghina bahwa orang tuaku tak mengajari sopan santun. Akan tetapi, saat dijawab, mereka malah tak terima.

Melakukan Percakapan dengan Orang SKSD

Siapa sih yang gak pernah merasa orang SKSD itu nyebelin? Mungkin ada, ya? Akan tetapi, bagiku itu sangat menyebalkan. Apalagi saat dia menanyakan pertanyaan retoris. Contohnya ketika melihatku sedang makan, tetapi dia malah bertanya lagi makan ya. Sungguh! Itu sangat menyebalkan.

Melakukan Sesuatu Saat Aku Tahu Bahwa Orang itu Tak Percaya Padaku

Wajar ‘kan kalau terkadang kita harus menjalankan ‘permintaan’ dari seseorang? Pasti dong. Entah itu dari atasan, atau dari keluarga, atau mungkin teman. Namun, apabila yang mempercayakan permintaan tersebut tak percaya padamu? Apa yang kamu rasakan?

Kesal dong pastinya. Dan yang paling penting membuat tak nyaman hingga karena kita harus melakukannya dengan ekstra hati-hati padahal hal tersebut merupakan pekerjaan yang biasa kita lakukan.

 

Kayaknya untuk sekarang itu aja. Walau sebenarnya masih banyak lagi, tetapi karena diminta 3 hal. Jadi, yang kutulis hanya itu saja. Apa ada dari kalian yang sama denganku?

 

#15daysjournalingchallenge
#day3
#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke1

 


Gabut, satu kata banyak arti. Gabut bisa berarti orang yang sedang tidak melakukan sesuatu padahal ingin melakukan sesuatu, tetapi tidak tahu apa itu. Bisa juga berupa singkatan dari gaji buta. Yup, sesuai yang kalian pikirkan, tidak bekerja, tetapi menerima uang.

 

Kegiatan di saat Gabut

Sebagai orang yang mageran, atau malas gerak, aku tak memiliki begitu banyak waktu gabut. Kalian bebas menyebutku pemalas atau apa, aku akan menerimanya dengan senang hati karena memang benar begitu adanya.

Lalu, kalau ditanya, apakah pernah aku merasa gabut. Tentu saja pernah, walau sangat jarang. Atau mungkin sering. Yah, tidak masalah karena pada akhirnya kegiatan itu tak akan aku lalukan ketika mager sedang mendera.

Kalau pernah merasa gabut, tentu aja pernah melakukan sesuatu ‘kan di saat seperti itu? Tentu pernah. Sekali lagi, dengan catatan kalau magernya tidak mendera, ya. Silakan diintip saja apa kegiatan yang kulakukan saat gabut ngajak main.

1.      Dengar lagu.

Ini kegiatan yang akan kulakukan walau mager mendera. Kegiatan ini cukup simpel karena bisa dilakukan sambil rebahan. Terkadang, aku melakukan kegiatan ini bersama kakakku di dalam kamar. Kami bernyanyi hingga suara menjadi serak, walaupun suara kami tak begitu bagus. Namun, karena rumah selalu dalam keadaan kosong. Kami jadi bebas untuk melakukannya. 

1.      Nulis

Kegiatan ini juga bisa dibilang kegiatan yang cukup simpel untuk dilakukan. Zaman sekarang, menulis itu bisa di mana saja dan menggunakan apa saja. Lagi pula, dengan menulis juga aku bisa menyalurkan kecerewetanku yang tak ingin didengar oleh siapapun. Jadi, aku sangat menyukai cerita ini.

Selain itu, karena menulis, aku memasuki banyak grup dan bertemu (secara online; tentunya) dengan banyak orang. Di antara mereka, ada juga yang berteman baik denganku. Bahkan, ada yang bersedia mendengar keluh kesahku. (Aku gak mau nyebut lagi, soalnya udah keseringan)

1.      Main game

Yah, siapa saja pasti pernah sesekali di saat bosan, lalu beralih pada game. Ini cukup efektif karena memang ada game yang bisa membuat kita memainkannya hingga lupa waktu. Namun, karena aku orangnya cepat bosan, biasanya kegiatan ini hanya bisa berlangsung sebentar karena pasti aku hanya melakukan gerakan yang sama berulang kali.


Itu saja kegiatan-kegiatan yang bisa kulakukan di kala gabut melanda. Tentu saja, ada satu kegiatan lainnya lagi, tidur. Akan tetapi, aku tak akan menuliskannya karena tidur itu memang kegiatan wajib kan, ya?

 

#15daysjournalingchallenge
#day2
#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke1

 


 

Deringan ponsel membuat fokusku buyar seketika. Aku pun menyentuh tombol hijau yang ada di layar ponselku—tepat di bawah sederetan angka nomor tak dikenal.

 

“Ya? Halo!” ucapku pelan, merasa tak enak karena takut mengganggu seisi angkutan umum yang sedang aku naiki.

 

“Halo, Mbak. Saya dari tiki, mau tanya ini alamat tepatnya di mana, ya?” tanya suara berat di ujung sana.

 

Aku menarik napas sebal. Selalu seperti ini, saat ditunggu, paketnya tak datang. Saat aku keluar, paketnya baru datang. “Mas sekarang posisinya ada di mana?” tanyaku dengan suara setenang yang aku bisa.

 

Terdapat jeda selama beberapa saat sebelum si kurir menjawab dengan suara bingung. “Saya ini lagi di jalan tembaga. Di samping-sampingnya ada rumah, Mbak. Dari kayu,” jelasnya membuatku dongkol setengah mati.

 

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan. “Mas, di sana rumahnya dari kayu semua. Maksud saya, di sekitar Mas ada apa aja sekarang?”

 

Walau aku tak melihatnya, aku yakin saat ini ia sedang tersenyum malu sembari melihat-lihat sekeliling dengan saksama. Tak lama, ia menjawab, “Di sini ada rumah makan, Mbak. Rumah Mbak yang mana, ya?”

 

Aku pun menepuk jidat gemas. Padahal, sudah kutambahkan catatan khusus di alamatnya kalau rumahku dekat dengan puskesmas—hanya berjarak 2 rumah saja. Namun, tempat yang sekarang didatangi oleh kurir itu sudah melewati rumahku cukup jauh.

 

“Sekarang Mas putar balik,” pintaku sembari menunggunya putar balik. Lalu, aku pun melanjutkan, “Nah, Mas jalan lurus aja. Tadi waktu Mas ke arah sana, Mas lihat ada puskesmas gak?”

 

Kurir itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ada, Mbak. Ada.”

 

Aku pun bisa tersenyum lega mendengarnya. Ternyata ia memperhatikan sekitarnya juga. “Nah, rumah saya berarti kalau dari arah Mas sekarang, 2 rumah setelah puskesmas itu. Yang bagian halamannya luas dan terasnya pakai keramik,” jelasku.

 

“Oh, iya, Mbak. Baik,” balasnya sopan.

 

Sebelum ia memutuskan sambungan, buru-buru aku menyelanya. “Mas, sekarang saya gak di rumah. Mas tunggu sebentar, ya. Biar saya minta ibu saya untuk keluar dan terima paketnya.” Aku pun memutus sambungan saat ia mengatakan ‘iya’.

 

Aku langsung mendial nomor Mama dan menunggu hingga dering ketiga. Lalu, suara Mama pun terdengar, “Halo?”

 

“Ma, Mama lagi di mana sekarang?” tanyaku tanpa mengucapkan salam lagi.

 

“Mama lagi di rumah temen. Ini siapa, ya?”

 

Gubrak! Hampir saja ponselku terlepas dari genggaman. Bisa-bisanya mama menjawab seperti itu padaku! Keterlaluan! Padahal anak mama cuma tiga. Dan Mama masih bisa bertanya ini siapa padaku yang sudah jelas-jelas memanggilnya ‘Mama’?

 

“Ini aku, Ma. Anak mama, masa Mama tanya ini siapa, sih?” sungutku sebal. Namun, bukan itu yang penting sekarang. Aku harus mengutarakan maksudku secepat mungkin karena pasti kurir tersebut sudah menunggu di depan pintu. “Ma, aku beli barang. Itu Mas kurirnya udah di depan, ya. Mama tolong ambilin, dong. Makasih, Ma.”

 

Aku langsung memutuskan sambungan sebelum nyonya besarku marah-marah. Beliau sangat tak suka bila aku belanja online. Hari ini pasti hari sialku karena ketahuan belanja online oleh Mama.





#jurnalhydramate
#jurnal_hm_januari
#jurnal_hm_minggu_ke4

Yo, Gengs! Gimana kabar kalian? Sehat-sehat, ya.

Nah, sebelumnya sudah ada bahasan soal pantangan-pantangan di hari imlek dan juga kegiatan di hari imlek. Akan tetapi, aku mau jelasin dulu nih. Hari Imlek itu bukan hari keagamaan, ya. Hari Imlek itu bisa dibilang sama seperti perayaan tahun baru. Di China sendiri, perayaan hari imlek ini dirayakan untuk menyambut musim panen yang baru. Jadi, jelas ‘kan kenapa aku bilang ini bukan hari keagamaan?

 

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa sih imlek identik dengan warna merah? Yuk, mari simak penjelasannya. Sebenarnya ini berkaitan dengan legenda zaman dahulu.

 

Dahulu, diceritakan bahwa di sebuah tempat di China sana, ada seekor monster berbentuk singa yang bernama Nian. Nian ini, senang menculik dan membawa anak-anak kecil yang ada di tempat tersebut. Sehingga saat itu, banyak anak yang menghilang.

 

Orang-orang pun hidup dalam ketakukan. Setiap menjelang malam, mereka semua mengunci pintu rumah dan tak membiarkan seorang pun keluar dari rumah. Hari demi hari berlalu, tetapi tak ada yang berubah. Mereka masih saja hidup dalam ketakutan.

 

Hingga suatu hari, datang seseorang dari luar yang menggunakan baju merah. Mereka sudah yakin bahwa orang tersebut akan dimakan oleh Nian. Akan tetapi, keyakinan mereka tak terwujud. Nian mundur ketakutan. Apalagi ketika orang tersebut membuat suara-suara yang berisik.

 

Sejak saat itu, mereka mengetahui kelemahan Nian—warna merah dan keributan. Oleh sebab itu, mereka mulai melakukan ritual pengusiran Nian selama beberapa hari lamanya. Dengan harapan bahwa mereka bisa mengusir Nian selamanya dari tempat tinggal mereka. Dan harapan mereka pun terwujud. Mereka tak lagi hidup dalam terror yang diberikan oleh Nian. Mereka bebas keluar pada malam hari pula.

 

Begitulah kira-kira legenda dari hari Imlek ini. Jadi, dari legenda ini, kita bisa mengetahui dua hal. Yang pertama, mengapa orang-orang tionghoa selalu memakai pakaian berwarna merah di hari imlek. Lalu, yang kedua adalah alasan mengapa adanya tarian barongsai,

 

Barongsai sendiri dianggap Nian oleh orang-orang. Tarian yang disertai dengan musik-musik keras dan juga pukulan gong diibaratkan dengan situasi orang-orang di saat itu. Situasi di mana mereka tengah mengusir Nian dari tempat mereka.

 

Mungkin banyak dari kalian yang awalnya bertanya-tanya, sebenarnya apa sih Barongsai itu. Dan saat ini pertanyaan kalian sudah terjawab bukan? Nian itu sejatinya monster berbentuk seperti singa.

 

Jadi, begitulah cerita singkatku di hari ini. Selamat Hari Imlek!

 

#jurnalhydramate
#jurnal_hm_januari
#jurnal_hm_minggu_ke5


 

Yo, Gengs! Apa kabar kalian? Semoga baik, ya.

Jadi, karna sebelumnya aku udah membawakan soal pantangan di hari Imlek. Kali ini aku akan membawakan mengenai kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang saat akan menjelang Imlek atau bahkan saat imlek.

Penasaran? Yuk, langsung kita bahas di bawah.

1.      Potong Rambut

Nah, biasanya kegiatan ini dilakukan oleh orang-orang saat akan menjelang imlek. Entah itu satu minggu sebelum imlek atau bahkan dua minggu sebelum imlek. Lalu, apa nih manfaat atau mitos dibalik kegiatan ini? Orang-orang percaya bahwa dengan memotong rambut sebelum imlek, maka kesialan atau ketidak beruntungan orang-orang di tahun itu akan turut terpotong dan terbuang.

Gimana? Kalian percaya kah? Kalau aku sih, percaya gak percaya. Akan tetapi, aku tetap potong rambut, sih. Soalnya kalau gak dipotong rambutnya rontok terus.

 

2.      Sembahyang dengan kue bakul

Biasanya, ini dilakukan saat pagi hari di waktu perayaan sa cap meh atau satu hari sebelum imlek. Dipercaya bahwa kue bakul yang memiliki tekstur yang lengket ini dapat merekatkan keberuntungan untuk kita. Selain itu, rasanya yang manis pun membuat orang-orang percaya bahwa jika memakan itu, di tahun yang selanjutnya kehidupan akan menjadi manis.

Namun, ada orang-orang yang tak boleh membeli dan sembahyang kue bakul di saat imlek. Orang-orang tersebut adalah orang yang sedang mengalami kemalangan. Kemalangan yang dimaksudkan di sini adalah adanya anggota keluarga yang meninggal. Biasanya, tergantung pada situasi orang tersebut. Pada umumnya, orang yang sedang kemalangan tak boleh membeli kue bakul selama 3x imlek atau 3 tahun.

 

3.      Membagi Angpao

Nah, tradisi membagi angpao ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah. Bagi yang belum menikah, dikatakan pantang untuk membagi angpao. Dipercaya jika ada yang belum menikah dan memberikan angpao di saat imlek, ia tak akan bisa menikah selamanya.

Bagi beberapa orang, mungkin mitos ini cukup mengerikan. Akan tetapi, bagi yang tak berencana menikah. Mitos ini terasa biasa aja. Kalau kalian bagaimana?

 

4.      Perlengkapan Baru

Dimulai dari baju, baju dalam, sikat gigi, hingga sepatu. Eits, rumah dan lainnya gak harus baru, kok.

Orang-orang tionghoa percaya dengan menggunakan barang baru di tahun yang baru, maka mereka juga akan turut menyambut tahun yang baru dengan keberuntungan yang baru pula.

Untuk pakaian di hari Imlek, orang-orang tionghoa merasa paling pantang memakai baju berwarna hitam. Hal itu disebabkan oleh warna hitam yang identik dengan warna malang atau duka cita. Oleh karena itu, biasanya orang-orang akan merasa aneh dan marah ketika melihat ada yang memakai baju berwarna hitam saat perayaan hari imlek.

 

Sepertinya sekian saja untuk yang ini. Jadi, bagi kalian yang sudah membacanya gimana? Ada yang setuju dengan anjuran-anjuran kegiatan di atas? Adakah dari kalian yang mempercayai mitos-mitos tersebut?

 

Jujur, kalau aku sendiri sih merasa biasa saja. Tidak percaya, tapi tak pula menyangkal. Aku hanya menganggap semuanya merupakan bagian dari tradisi, bukan kepercayaan. Toh, apa yang dianjurkan untuk dilakukan bukanlah sesuatu yang merugikan. Jadi, kenapa tidak?

 

By the way, kalau ada dari kalian yang merasa tulisanku ini salah. Boleh loh kasih tahu aku di kolom komentar. Aku tunggu. Semoga tulisan ini bisa menghibur kalian.

 

 

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_januari
#jurnal_hm_minggu_ke5

Yo, gengs! Hari ini aku akan membawakan sesuatu yang berbeda. Pantangan-pantangan yang tak boleh dilakukan di hari imlek.

 

Siapa sih yang gak tahu tahun baru Imlek? Sebelum kubahas ini lebih lanjut, aku mau meluruskan satu hal terlebih dahulu. Tahun baru imlek, bukan perayaan keagamaan. Jadi, siapa saja yang memiliki darah keturunan Chinese merayakannya, tak peduli apakah dia beragama Buddha, Islam, atau Kristen. Selama ini, aku tahu bahwa banyak yang mengira ini merupakan hari besar yang dirayakan oleh orang-orang beragama Buddha, tapi—sekali lagi aku katakan—itu pemikiran yang salah.

 

Imlek sendiri selalu jatuh di pertengahan Januari sampai dengan pertengahan Februari kalender nasional. Biasanya tanggal pastinya selalu dilihat melalui lunar kalender atau bisa disebut juga dengan kalender bulan.

 

Mungkin kalian tahu bahwa orang Chinese itu banyak pantangannya. Jadi, kali ini aku akan membahas 6 pantangan yang berkaitan dengan imlek. Yuk, simak di bawah ini.

 

Cuci Rambut

 

Nah, di hari pertama imlek itu biasanya paling pantang cuci rambut. Konon katanya, hal itu bisa membuat keberuntungan kita selama tahun itu tercuci bersih. Entah benar atau tidak, begitulah tradisinya. Biasanya, orang-orang akan mencuci rambut di satu malam sebelum imlek atau yang biasa disebut dengan sacapmeh.

 

Menyapu dan Mengepel Rumah

 

Menyapu dan mengepel rumah tentu saja ini merupakan kegiatan sehari-hari yang harus dilakukan. Akan tetapi, di hari pertama imlek. Dilarang untuk melakukan kegiatan bersih-bersih rumah. Jika ingin melakukannya pun, harus tunggu sampai lewat tengah hari. Jadi, biasanya di malam sebelum imlek, orang-orang akan membersihkan rumahnya terlebih dahulu sebelum sembahyang. Orang-orang percaya bahwa menyapu atau mengepel rumah di hari pertama imlek, maka semua keberuntungan kita di tahun itu akan tersapu keluar.

 

Minum Obat

 

Konon katanya, meminum obat pada saat hari pertama imlek itu akan membuat orang itu sakit selama satu tahun penuh. Biasanya, kalau memang sudah tidak tahan sekali, orang-orang akan meminumnya setelah lewat tengah hari.

 

Makan Bubur

 

Menurut orang-orang dulu, bubur identik dengan kemiskinan. Maka dari itu, di hari bahagia seperti Imlek, dilarang memakan makanan tersebut. Jadi, kalau mau makan, makannya setelah lewat imlek ya.

 

Membalikkan Ikan

 

Dahulu, banyak orang China yang bekerja sebagai pelaut. Dan ada yang percaya bahwa jika membalikkan ikan yang kita makan, maka di saat kita melaut nanti kapalnya akan tenggelam. Jadi, biasanya kalau masih ada daging lain di sisinya, biasanya orang-orang akan memisahkan tulangnya terlebih dahulu baru memakannya, bukan dengan cara membalikkannya.

 

Mengutang

 

Nah, ini nih yang paling fatal di antara semuanya. Mengutang sendiri adalah perbuatan yang kurang baik, kan? Walau terkadang orang-orang melakukannya karena terpaksa, tapi kalau bisa lebih bagus jangan. Menurut kepercayaan orang-orang China, kalau mengutang dan belum lunas hingga Imlek datang, maka ke depannya orang tersebut akan terus-menerus terlilit hutang. Oleh sebab itu, biasanya orang-orang akan berusaha semaksimal mungkin untuk melunasi utangnya. Atau jika tidak bisa, seminimalnya mereka akan berusaha mengurangi utang mereka.

 

Berikut 6 pantangan yang tak boleh dilakukan ketika imlek. Ya, entah apa pun mitos yang ada di dalam pantangan tersebut. Ini adalah tradisi yang sudah dilakukan secara turun menurun. Entah percaya atau tidak, karena tak ada ruginya sama sekali saat mematuhinya. Mari patuhi saja larangan tersebut.

 

Berhubung ini merupakan pelajaran yang aku dapatkan dari rumah. Aku harap gak ada siapa pun yang merasa sakit hati atau apa dengan tulisan ini. Jika menurut kalian ada yang salah dengan tulisan ini, boleh silakan langsung bahas di kolom komentar, ya. Terima kasih.

 

#jurnalhydramates
#jurnal_hm_januari
#jurnal_hm_minggu_ke5