Semua orang pasti akan menilai orang-orang yang ditemuinya. Begitu
pula denganmu dan aku. Aku menilai dirimu dan dirimu menilai diriku. Itu adalah
hal yang sangat wajar. Lantas, apa masalahnya?
Apakah penilaian orang lain terhadap dirimu atau diriku itu benar
adanya? Ya, walaupun hal seperti ini tidak ada benar atau salahnya. Tentu saja
tidak ada karena ini bukanlah ujian matematika yang jawabannya hanya satu.
Manusia itu abu-abu, tak ada yang 100% hitam dan juga tak ada yang
100% putih. Memang ada yang lebih condong ke putih atau hitam, tetapi bukan
berarti mereka sepenuhnya hitam atau putih. Pasti ada sedikit saja warna putih
di dalam hitam atau hitam di dalam putih.
Penilaian
Orang Terhadapku
Setiap
orang menilaiku sebagai pribadi yang berbeda-beda karena aku selalu
memperlakukan orang lain sebagaimana orang lain memperlakukanku. Aku rasa, itu
yang kalian sebut dengan banyak muka atau muka dua atau sebutan lainnya. Akan
tetapi, bagiku itu berbeda. Itu bukanlah muka dua atau apa pun. Terserah kalian
mau menganggap itu pembelaan atau apa, aku tidak begitu peduli.
Di Mata
Orang Tua
Di
mata kedua orang tuaku, aku dianggap sebagai anak pemalas dan pembangkang. Aku
tak tahu mengapa, tetapi aku sering kali tergoda untuk membangkang setiap kali
mereka memintaku untuk melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya aku juga tidak
begitu mengerti mengapa aku melakukan hal tersebut. Entah mungkin hanya karena
ingin perhatian lebih dari mereka atau bukan.
Yah,
aku memang sering kali mengatakan aku tidak peduli bahwa mereka menyayangiku
ataukah tidak. Namun, saat kecil, aku juga ingin diperhatikan sedikit oleh
mereka. Aku selalu merasa bahwa mereka jarang memperhatikanku karena mereka
lebih menyayangi kakak atau adikku. Mungkin karena keinginan masa kecil yang
tak tercapai itu aku lebih sering membangkang. Akan tetapi, sekarang sudah
tidak begitu lagi.
Aku
lebih sering memilih untuk mendiamkan kedua orang tuaku ketika aku sedang lelah
pada mereka. Aku lebih senang dengan perilaku seperti orang asing yang saat ini
kami jalani.
Di Mata
Teman
Nah,
untuk ini sangatlah banyak. Ada yang menganggapku judes, frontal, bermulut
pedas, cuek. Untuk ini, aku mengakuinya. Semua itu benar. Namun, ada juga yang
mengatakan bahwa aku lebih senang sesuatu yang praktis.
Tentu
saja. Siapa yang tak senang dengan sesuatu yang praktis. Hal itu tidak
merepotkan dan bisa mempersingkat waktu sehingga waktuku untuk bermalas-malasan
bisa lebih panjang.
Namun,
ada satu penilaian yang menurutku kurang cocok. Aku mengenal seorang teman dari
sebuah grup kepenulisan dan ia mengatakan bahwa aku adalah orang yang lucu.
Sebelumnya, aku belum pernah mendengar hal itu dan aku rasa image lucu sama sekali tak pantas
bersanding denganku.
Yah,
apa pun penilaian orang terhadapku. Tidak ada dari penilaian tersebut benar
ataupun salah. Semuanya benar karena begitulah image-ku tercipta di mata mereka. Aku hanya menyesuaikan perilakuku
dengan perilaku mereka sehingga apa yang mereka dapatkan pasti selalu
berbeda-beda.
Terkadang,
aku bersikap kekanakan pada orang yang kenakan. Aku juga bisa bertingkah
menyebalkan pada orang yang menyebalkan. Di lain waktu, aku bisa bertingkah
dewasa ketika orang-orang bersikap dewasa. Apa pun itu, memang begitulah caraku
membawa diri dalam pergaulan. Mungkin di mata beberapa orang aku itu palsu.
Akan tetapi, bagiku itu adalah diriku yang asli. Tergantung sikap dan sifat
seperti apa saja yang bisa kalian pancing untuk aku keluarkan saat bersama
kalian.
#jurnalhydramates
#jurnal_hm_maret
#jurnal_hm_minggu_ke4
#day13
#15daysjournalingchallenge
0 comments:
Posting Komentar