Seorang gadis menggeliat kecil di sebuah ruangan gelap. Matanya meneliti ruangan tersebut dengan saksama. Di sudut ruangan terdapat sebuah lemari, di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu kecil, dan seluruh lantainya dilapisi dengan karpet yang cukup tebal dan lembut. Gadis itu mencoba untuk duduk.
"Ah! Kau sudah bangun rupanya," desah sebuah suara bariton. Tubuh gadis itu menegang tanpa bisa dicegah. Matanya terpancang pada pintu yang baru saja ditutup oleh seorang pria seusia ayahnya.
"Pagi, Om," sapa gadis itu seceria mungkin. Ia lantas menatap sekeliling yang gelap dan meralat sapaannya. "Maksud saya, malam, Om."
Pria itu terbahak kuat hingga membuat gadis itu merinding. Tubuhnya menggigil ketakutan. Pria itu mengikis jarak di antara mereka. "Sebaiknya kau tidur lagi sekarang karena aku juga ingin tidur. Sudah dua malam aku tak bisa tidur." Pria itu mengacungkan sebotol obat tidur yang baru saja ia dapatkan dari apotek.
Gadis itu menggeliat hebat. Bibirnya terkatup dengan rapat saat pria itu berusaha memasukkan sebutir obat ke dalam mulutnya. Semakin kuat ia memberontak, semakin kuat pula cengkraman pada dagunya.
"Hah! Dasar! Padahal kukira kau anak yang manis. Tak kusangka kau begitu keras kepala sama seperti ayahmu. Sebaiknya kau telan ini dengan keinginanmu sendiri atau aku akan melakukannya secara kasar," ancam pria itu membuat gadis kurus itu menelan salivanya susah payah.
Ia memejamkan matanya, berusaha mengkalkulasi tindakan mana yang lebih menguntungkan dirinya. Akhirnya, ia pun memilih untuk menelan pil tidur tersebut tanpa paksaan. Walau tentu saja, ia berencana akan memuntahkannya nanti.
Beberapa saat berlalu, pria itu menegak 2 butir pil tidur dan air putih. Tak lama, terdengar napas teratur yang meluncur dari hidungnya. Gadis itu memuntahkan kembali pil tidur yang ia tahan di belakang lidah. Setelahnya, ia bergerak dengan hati-hati menuju lemari. Ia mengambil pisau dan memotong tali tersebut. Selama proses pemotongan tali, gadis itu harus merelakan tangannya teriris karena tak bisa melihat.
#agustusrawspunyacerita
#daripadagalautanggaltuamendingannulissaja
0 comments:
Posting Komentar