Yo! Baca part sebelumnya dulu, ya, biar gak bingung.


Zulfa, Rio, dan Anggi kini tengah berada di pusat pasar. Mereka bertiga mengitari pasar seraya mencuci mata. Mata Rio jelalatan begitu melihat jajanan pasar. Sementara Anggi terlihat sudah mulai capai.

“Kita cari makan dulu, yuk,” ajak Zulfa yang sedari tadi memperhatikan kedua rekannya. Anggi dan Rio segera mengangguk setuju.

Zulfa menyeruput es kelapa mudanya, lalu menarik kursi di depan Anggi. Ia baru saja kembali setelah memesan kari bihun. “Gi, kamu kenapa? Kok kayaknya capek banget?”

Anggi menggeleng. Ia memang merasa lesu dari pagi tadi. Bahkan ia pun merasa sedikit pusing tadi pagi. Wajahnya pun pucat. Zulfa menyodorkan teh manis hangat yang baru saja datang pada Anggi.

“Mau pulang aja gak, Gi?” tanya Rio khawatir lantaran bulir-bulir besar keringat dingin mulai menghiasi kening Anggi.

Zulfa pun mulai berpindah ke samping Anggi dan mengelus punggung Anggi lembut. Anggi terlihat begitu lemas hingga harus menyandarkan kepalanya pada pundak Zulfa.

“Kita pulang aja deh. Bantuin aku dong, Yo,” putus Zulfa seraya memapah Anggi dengan hati-hati.

Rio mengangguk mantap dan berpindah ke sisi kiri Anggi dan memapah wanita itu. Belum sempat mereka berdua menarik Anggi berdiri, Anggi terlebih dahulu menggeleng pelan.

“Gak usah. Aku tunggu di sini aja. Bentar lagi Kak Dimas datang, kok. Tadi aku udah telepon suruh jemput,” ucap Anggi lemah. Anggi tak berbohong. Ia memang sudah menelepon suaminya itu saat Zulfa dan Rio meninggalkannya untuk mencari makanan.

Rio dan Zulfa saling menatap ragu. Kemudian keduanya mengangguk mantap. Bersepakat tanpa kata agar bersama-sama dengan Anggi menunggu hingga Dimas datang menjemput. Benar saja, dua puluh menit kemudian, pria tersebut datang.

Dimas yang melihat wajah pucat Anggi langsung panik. Dan Anggi yang sudah lemas pun masih bisa-bisanya terkekeh melihat kepanikan suaminya itu. “Santai dikit kenapa, sih, Kak? Kamu bikin aku tambah pusing tau, gak?” ucapnya sembari pura-pura marah.

Dimas pun menjadi sedikit lebih tenang. Ia memapah Anggi karena Anggi menolak untuk digendong. Mereka berdua pamit dan meninggalkan Zulfa berdua bersama dengan Rio.

“Jadi? Kita mau lanjut kencan di mana, Zul?” goda Rio seraya mengedipkan sebelah alisnya nakal.

Zulfa terkekeh. Ia memukul lengan Rio gemas, lalu memasukkan sesuap kari bihun yang sudah dingin ke dalam mulutnya. “Terserah kamu aja sih, Say,” balas Zulfa dengan suara yang dimanja-manjakan. Namun, beberapa detik kemudian, tawa berhambur keluar dari bibir kedua orang itu.

“Geli banget, Yo! Sumpah!” ucap Zulfa di sela-sela tawanya.

Rio mengangguk membenarkan. Sungguh ia merasa kelakuan mereka barusan sangatlah konyol. “Bener banget. Astaga! Gak kebayang kalau kamu bisa sekonyol ini, Zul,” ledek Rio seraya berusaha menghentikan tawanya.

Zulfa melotot kesal, tak terima dikatai konyol sendirian. “Enak aja. Kamu tuh yang lebih konyol. Kan kamu yang mulai. Udah, ah. Cepetan makannya,” omel Zulfa dan sesaat kemudian ia mengerling jail dan melanjutkan, “supaya kita bisa lanjut kencannya.”

Lagi-lagi keduanya tergelak. Setelah selesai makan, mereka berdua kembali mengitari pusat pasar tersebut. Mereka berdua langsung mampir ke toko yang menjual perlengkapan bayi. Saat memilih-milih, Zulfa membulatkan matanya dan menepuk-nepuk lengan Rio dengan hebohnya.

“Apaan, sih, Zul? Sakit tau?” keluh Rio sembari mengernyit kesakitan.

“Kayaknya aku tau kenapa Anggi gitu,” ucap Zulfa sambil menatap Rio antusias.

Rio memandang Zulfa tak mengerti. Ia memutar otaknya mencari tahu apa yang dimaksudkan oleh Zulfa. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit. Lima menit. Rio masih belum tahu apa yang dimaksudkan oleh Zulfa hingga membuat gadis itu greget.

Zulfa menunjuk baju bayi yang ada di hadapannya guna memberi kode pada Rio. Akan tetapi, pria lemot itu masih juga tak paham. Gemas dan kesal. Zulfa menginjak kaki pria itu keras dan berlalu begitu saja meninggalkan Rio yang bingung.

Niat Zulfa membeli perlengkapan bayi untuk anak Rangga dan Michele hancur sudah. Ia sekarang hanya ingin pulang dan langsung merongrong Anggi dengan berbagai macam pertanyaan. Kini ia menjadi lebih bersemangat dan langsung keluar dari pusat pasar, melupakan tujuan awalnya.

Sementara itu, Rio yang sudah mulai paham segera mengerjar Zulfa. Begitu melihat Zulfa sudah dalam jangkauan, Rio segera merangkul gadis itu. “Wah! Kita harus cepet-cepet nodong Anggi buat cerita nih,” ucapnya dengan senyum senang yang terukir di wajahnya.

Zulfa mengangguk pasti. Senyum lebar juga menghiasi wajahnya. Namun, senyum itu langsung luntur saat Rio menyuarakan pertanyaan yang sudah mengganggunya dari beberapa hari yang lalu.

“Perlengkapan bayi itu buat siapa, Zul?” tanya Rio penasaran. Walau sebenarnya ia memikirkan ada kemungkinan perlengkapan bayi itu untuk mereka. Akan tetapi, Rio segera mengenyahkan pemikiran itu karena ia yakin Zulfa tak mungkin sebodoh itu.

Zulfa meringis kecil hingga membuat Rio membelalak lebar. Ringisan Zulfa sudah cukup untuk mengonfirmasi apa yang ada di pikirannya saat ini.

“Bego!” maki Rio gemas. Ia kemudian memaksa Zulfa menghadapnya dan menyentil kuat dahi Zulfa. “Aku gak akan izinin kamu habisin uang untuk anak mereka. Jangan jadi orang bodoh, deh, Zul!”

Zulfa lagi-lagi hanya bisa meringis. Ia tak mampu membantah perkataan Rio walau ingin. Padahal ia yakin argumen yang akan ia lontarkan cukup kuat. Dan ia juga yakin jika ia melontarkan argumennya, Rio akan mengomelinya habis-habisan. Ia juga yakin kalau pria itu bahkan mampu mengeluarkan omelan pedas yang bisa memerahkan telinganya. Maka dari itu, ia cukup diam dan menuruti kemauan pria itu. Lalu, pergi membeli perlengkapan bayi itu sendirian.


[bersambung]

 Jangan lupa baca yang sebelumnya


Zulfa terkekeh melihat raut tak enak Rio. Ia mengangguk membenarkan pertanyaan Rio. “Iya, Michele yang itu, Yo. Kenapa?” balas Zulfa santai.

Sementara itu, Rio dan Anggi yang baru saja selesai mengunyah tersedak. Keduanya sibuk menggapai air dan juga terbatuk-batuk dengan hebohnya. Zulfa menggelengkan kepalanya geli melihat respons heboh kedua rekan kerjanya itu.

Setelah batuknya mereda, Rio melotot lebar sembari mencondongkan wajahnya di depan Zulfa. “Beneran Michele yang itu?”

Zulfa menegak minumnya, lalu menatap Rio tajam. "Rio sayang, menurut kamu sendiri aku kenal berapa Michele? Hmm?" tanya Zulfa

Rio dan Anggi terdiam, memikirkan apa yang harus mereka katakan saat ini. Zulfa menutup sendok dan garpunya karena sudah selesai makan. Ia menegak airnya sebelum menatap kedua rekannya yang kini tengah berpikir dengan serius.

“Ya, udah, sih. Biarin aja. Aku dan Michele emang kenal dekat dari kecil. Terus kenapa kalau akhirnya dia pacaran sama Rangga?” tanya Zulfa enteng. Raut wajahnya memang menunjukkan bahwa ia tak peduli sama sekali. Walau begitu, Rio dan Anggi tetap saja menunjukkan mimik prihatin.

“Bukan gitu, bego!” maki Anggi gemas. Kini rautnya berubah menjadi marah. Gadis itu melahap daging ayamnya dengan ganas membuat dua rekannya menatapnya ngeri.

“Iya, aku emang bego,” celutuk Zulfa dengan nada jenaka, berusaha mencairkan suasana. Akan tetapi, bukannya suasananya semakin ringan, suasananya malah semakin horor.

Rio menegak minumnya dan menutup peralatan makannya. Piringnya sudah tandas dan kini ia siap untuk merepet. “Iya. Emang. Bego banget. Bisa-bisanya kamu ngalah gitu aja,” omel Rio kesal.

Zulfa terdiam mendengar omelan Rio. Alisnya berkerut tak paham. Ia tak mengerti kenapa kedua rekannya yang seperti orang kebakaran jenggot.

“Kamu tuh, ya! Sudah berapa kali dia ngerebut cowok yang sama kamu?” sembur Anggi galak.

Zulfa terdiam kaget. Ia mulai menggali ingatan lamanya. Michele dan ia sudah berteman lebih dari 10 tahun. Mereka pertama kali bertemu saat mereka berusia 8 tahun. Dan selama itu pula, mereka sering bersekolah di tempat yang sama—atau lebih tepatnya Michele selalu mengekori di mana pun ia bersekolah. Saat bersekolah, mereka sering naksir pada pria yang sama.

Kemudian, selalu Zulfa yang mengalah. Membiarkan Michele mendekati para lelaki itu hingga akhirnya mereka jadian dan putus beberapa minggu kemudian. Zulfa tak pernah mengajukan protes karena takut hubungan mereka rusak. Akan tetapi, kali ini, ia merasa Michele sudah cukup kelewatan. Sebab, di masa sebelum ini, cowok-cowok itu hanya dalam tahap pedekate dengannya. Namun, Rangga berbeda. Rangga sudah berstatus calon suami Zulfa. Maka dari itu, ia memilih untuk memutus pertemanannya saja.

“Ah! Sudahlah! Lagian hal seperti ini tak akan terulang lagi. Aku sudah tak bersahabat lagi dengannya,” sela Zulfa sebelum omelan Rio dan Anggi membuatnya tuli.

Anggi menggebrak meja kesal. “Masalahnya itu di kamu!” tuding wanita itu gusar.

Zulfa melotot tak terima. Mengapa malah dirinya yang menjadi masalah? Dia yang dikhianati dan dia juga yang salah? Ia sungguh tak mengerti. “Kenapa jadi salahku?” tanya Zulfa tak terima.

Rio yang merasa suasana sudah mulai memanas, tak lagi menuangkan bensin di atas kobaran api itu. Ia hanya duduk diam sambil memantau pertikaian kedua rekan kerjanya. Ia menunggu celah yang tepat agar bisa masuk.

“Iya. Masalahnya itu ada di kamu,” kekeuh Anggi gusar.

Zulfa mendengus. Ia mengangkat piringnya dan bangkit dari duduknya. Memilih untuk menghindari pertengkaran yang menurutnya tak ada artinya ini. Baru langkah pertama Zulfa ambil, Anggi kembali bersuara hingga membuat Zulfa berang.

“Lihat, ‘kan? Masalahnya itu ada di kamu, Zul,” ulang Anggi dengan nada yang menyebalkan.

Zulfa berbalik dan menatap Anggi tajam. “Apa maksudmu? Aku sudah menjauh untuk menghindari pertengkaran gak berguna ini, tapi apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mancing terus?” sembur Zulfa gusar. Ia tak lagi peduli tatapan penasaran yang ditujukan pada seisi kantin pada mereka bertiga.

Sementara itu, Rio masih bergeming—menunggu celah yang tepat untuk masuk. Anggi membalas tatapan Zulfa tak kalah tajam. Seulas senyum mengejek ia hadiahkan untuk gadis yang tengah mati-matian mengontrol amarahnya itu.

“Lihat, ‘kan? Kamu selalu begini. Makanya kamu bisa diinjak-injak sama Michele. Coba kalau dari awal kamu melawan. Apa Rangga akan direbut oleh Michele?” sinis Anggi tajam.

“Jadi menurut kamu, aku harus ngambil ayah dari anak yang dikandung oleh Michele?”

Pertanyaan yang tak disangka-sangka oleh Anggi dan Rio membuat keduanya terdiam dengan wajah kaget. Keduanya menganga tak percaya mendengar pertanyaan Zulfa yang dilemparkan olehnya dengan gusar. Awalnya, Zulfa tak ingin menyebarkan aib milik Michele. Namun, karena keadaannya sudah begini, ia tanpa sengaja membeberkan apa yang ia dengar di malam itu.

“Iya. Michele hamil. Aku mendengarnya. Malam itu, sewaktu Rangga ulang tahun. Aku mengunjunginya untuk memberikan kejutan. Tapi, kejutan itu malah berbalik padaku. Aku awalnya melihat mereka ciuman, lalu aku mendengarnya. Kado ulang tahun dari Michele untuk Rangga itu adalah seorang anak yang tengah dikandungnya,” tutur Zulfa yang kini sudah tenang kembali.

Anggi dan Rio terdiam. Tak tahu harus berkomentar bagaimana. Mereka tak menyangka masalahnya akan sepelik ini. Sungguh! Siapa yang sangka kalau Michele akan hamil anak Rangga? Tak ada. Bahkan, di saat mereka berkumpul, Michele dan Rangga selalu terlihat tak akur. Jadi siapa yang akan menyangka hal itu akan terjadi?

“Sorry,” ungkap Anggi menyesal. Ia sungguh menyesal karena sudah mendorong Zulfa sejauh itu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Minggu ini aku mau beli perlengkapan bayi. Kalian mau ikut?” tanya Zulfa sambil menatap kedua rekannya serius.


[bersambung]

 Yo! Biar gak bingung baca yang sebelumnya, ya.

Sebuah ketukan halus pada pintu membuat Zulfa menarik dirinya dari dunia seberang. Ia mengerang kecil dan menggeliatkan tubuhnya. Sejenak, ia menelentangkan tubuhnya dan mendapati langit-langit kamarnya hingga keningnya berkerut. Ia kemudian menoleh ke kanan dan mendapati kaki kasur beserta kolong kasur.

Saat ingatan kemarin malam menyapanya, ia akhirnya mengerti. Ternyata ia ketiduran di lantai. Sebuah ketukan halus pada pintu kembali menarik Zulfa dari dunianya. Ia merenggangkan ototnya kembali sembari menjawab. “Iya, Nek. Zulfa sudah bangun.”

Zulfa segera menyambar handuk dan berlalu menuju ke kamar mandi. Sebelum masuk, Zulfa berkaca terlebih dahulu di kaca. Matanya bengkak akibat menangis terlalu lama. Ia menghela napas panjang. Ia harus bergerak dengan cepat dan menghindari seisi rumah agar tidak ditanyai macam-macam.

Setelah mandi, Zulfa pun melesat menuju kamarnya dan mengganti baju dengan cepat. Begitu selesai, ia mempertajam telinganya guna mengetahui apakah ada orang di luar kamarnya. Saat yakin tak ada orang, ia pun keluar kamar. Dengan cepat pula ia melesat menuju ruang makan dan meneguk segelas teh manis hangat. Lalu, mencuci gelasnya dan langsung kabur menuju tempat kerjanya.

Zulfa menghela napas lega begitu kakinya menginjak lobi kantor. Ia melihat sekeliling, memastikan tak ada yang mengenalinya. Kemudian, berjalan cepat menuju tangga dan naik ke lantai tiga.

“Hayo! Udah kayak maling aja ngendap-ngendap gitu.”

Zulfa menggigit bibirnya secara spontan agar tak berteriak keras akibat tepukan serta bisikan pelan itu. Zulfa mengelus dadanya dan memastikan jantungnya masih berada pada tempatnya. Ia menoleh dan mendapati Anggi yang tengah tersenyum jail.

“Ih! Ngagetin aja, deh! Dasar!” omel Zulfa seraya memukul gemas pundak Anggi yang kini sudah menghamburkan tawanya.

Wanita itu terlihat puas sekali setelah mengerjai rekan kerjanya. Setelah puas terpingkal hingga perutnya kram. Anggi menatap Zulfa dengan tajam. “Mata kamu bengkak,” komentarnya.

Zulfa mendorong wajah Anggi yang menurutnya terlalu dekat. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas Anggi di wajahnya. “Bukan apa-apa,” elaknya seraya membuka laci dan mulai mensibukkan dirinya dengan dokumen yang asal ia tarik.

Anggi mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. Menurutnya, Zulfa itu sangatlah tertutup dan misterius. Ia merasa ia dekat sekaligus jauh dengan Zulfa. Zulfa selalu mengingat apa yang ia suka dan apa yang tidak. Zulfa selalu bisa ia ajak bicara banyak. Terkadang, ia bahkan tak perlu menyuarakan apa yang ia inginkan agar Zulfa tahu. Walau begitu, Zulfa tak pernah berbagi cerita sulit dengannya. Gadis itu selalu memendamnya sendiri dan berusaha menyelesaikan semuanya sendiri.

Sekali lagi, Anggi menghela napas panjang. Ia hendak kembali ke kubikelnya, tetapi suara Zulfa menghentikannya dan memaksanya berbalik untuk menggeplak kepala rekannya itu.

“Hela napas panjang mulu katanya bisa cepat mati, loh,” kelakar Zulfa tanpa melirik lawan bicaranya.

“Ah! Ampun! Sakit, tahu?” mohon Zulfa setelah mendapat hadiah pukulan secara bertubi-tubi.

Walau Zulfa sudah memohon ampun, Anggi tak melepaskannya begitu saja. Wanita itu malah mencubit gemas pipi Zulfa. Ia menarik-narik pipi Zulfa dan mengunyel-ngunyel wajah gadis itu.

“Pagi-pagi udah mesra aja, sih,” ledek Rio yang baru saja sampai.

Zulfa mendelik. Ia merasa sepertinya otak pemuda itu bermasalah. Bagaimana bisa penyiksaan sepihak ini dikatakan mesra? Setelah berhasil lepas dari siksaan Anggi, Zulfa meraih kalender mejanya dan menimpuk Rio.

“Dasar! Otak kamu kayaknya bermasalah, deh! Aku disiksa gini malah dikatai mesra-mesraan?” omel Zulfa.

Rio terkekeh puas. Ia mengambil kalender milik Zulfa dan mengembalikannya ke tempat semula. “Kamu habis nangis semaleman? Habis diputusin pacar, ya?” tanya Rio sambil lalu.

Zulfa mengerutkan keningnya dalam. Oh, iya. Dia habis putus dengan Rangga. Dan saat itu, ia malah tak merasakan apapun. “Aku udah putus sama Rangga dari seminggu yang lalu. Dia selingkuh sama Michele,” ungkap Zulfa datar.

Anggi langsung memeluk Zulfa dan mengelus kepala Zulfa prihatin. “Yang sabar, ya, Zul,” ucapnya lembut.

Zulfa ingin terbahak, tetapi karena suasananya sangat sendu. Ia mengurungkan niatnya itu. Ia akhirnya mengikuti alur dan mengangguk pelan. “Iya, Gi. Makasih.”

“Sok memelas kamu,” komentar Rio sadis merusak suasana sendu di antara mereka bertiga.

Zulfa tak bisa lagi menghentikan tawanya. Ia terpingkal hingga perutnya kram membuat dua orang yang ada di hadapanya menatapnya heran. Mereka mengira bahwa Zulfa sudah menderita gangguan psikis akibat putus cinta.

“Sisa jatah cuti kamu ada berapa hari lagi, Zul?” tanya Rio tiba-tiba hingga membuat tawa Zulfa terhenti dan menatapnya heran.

“Masih sekitar enam sampai tujuh hari. Kenapa, Yo?” Zulfa mengerutkan alisnya menatap Rio.

Rio mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Hmm ... kayaknya cukup, sih,” ucapnya tak sambung.

Kening Zulfa semakin berkerut mendengar balasan Rio yang tak relevan dengan topik mereka. “Apaan sih, Yo? Gak jelas banget,” omel Zulfa gemas.

“Cukup buat konsultasi ke psikolog. Kayaknya kamu jadi aneh setelah putus cinta,” balas Rio dan langsung kabur menghindari amukan Zulfa.

Melihat Rio yang kabur, Zulfa segera bangkit dari kursinya dan mengejar pria itu. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat Noah melewati ruangan mereka. “Pak,” sapanya sopan. Ia menatap Rio yang ternyata juga sudah berhenti berlari dan kini tengah berdiri canggung.

Setelah Noah masuk ke dalam ruangannya sendiri, semuanya bubar dan kembali ke tempat masing-masing. Mereka sepakat tanpa suara akan membuka topik tersebut saat makan siang nanti.

“Jadi? Rangga dan Michele pacaran?” tanya Rio memastikan pendengarannya. Zulfa mengangguk tegas. Ia menyuapkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya.

Sejenak, Rio mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Namun, beberapa detik kemudian, matanya membelalak lebar. “Sebentar!” serunya membuat sendok yang hendak masuk ke dalam mulut Anggi terhenti di udara. Sementara Zulfa yang tengah mengunyah pun menghentikan kunyahannya. Mereka berdua menatap Rio dengan pandangan bertanya.

“Michele itu ... yang itu bukan, sih?” tanya Rio ragu-ragu. Mendengar pertanyaan itu, Zulfa kembali mengunyah makanannya dengan santai. Kemudian, meneguk minumnya sebelum membuka mulut.


[bersambung]


 Yo! Jangan lupa baca yang sebelumnya, ya.

 

 

Suasana temaram menemani Zulfa malam itu. Ia menggigit pensilnya sembari mengetuk-ngetukkan kepalanya dengan jari telunjuknya. Ia menghela napas panjang.

"Kalau gini ceritanya, kayaknya aku harus cari sampingan," ungkapnya pasrah. Ia kini tengah menyusun pengeluaran panti beserta pribadinya dan juga pendapatannya dengan nenek serta hasil donasi dari donatur.

Sekali lagi, Zulfa melarikan matanya di atas kertas yang sudah penuh dengan berbagai angka itu. Berusaha memeriksa ulang apakah dia ada salah tulis atau bagaimana. Setelah mengecek kembali dan sudah benar semua, ia menghela napas panjang.

"Gak ada cara lain lagi," keluhnya sembari tersenyum miris. Ia sudah menghitungnya dengan benar. Dan memang benar adanya keuangan panti masih mengalami kekurangan sebab anak-anak panti semakin bertambah.

Sudah 20 tahun panti tersebut berdiri, tetapi selama panti tersebut berdiri tak ada satupun anak yang berhasil diadopsi oleh keluarga baru. Namun, anak-anak panti yang tadinya tak ada, kini sudah berjumlah sebanyak 30 orang. Dan itu dimulai dari 14 tahun yang lalu.

Angga menjadi penghuni pertama panti yang didirikan oleh ayahnya. Saat itu, ayahnya membawa Angga dalam keadaan hampir beku. Bibir bayi kecil itu berwarna biru. Bayi kecil itu bahkan tak bisa bersuara. Dan saat dibawa ke dokter, dokter pun sudah hampir menyerah.

Namun, ayahnya tak menyerah demi menyelamatkan bayi itu. Berlapis-lapis selimut hangat ia lilitkan pada tubuh bayi kecil itu. Susu hangat pun ia berikan pada bayi kecil itu. Walau susu itu lebuh banyak tak bisa masuk ke dalam kerongkongannya.

Zulfa yang saat itu masih berusia 9 tahun ikut menjaga bayi kecil itu. Berkat perjuangan yang tak putus semalaman, akhirnya bayi itu berhasil melewati masa kritisnya keesokan paginya. Itu sungguh sebuah keajaiban bagi ayah Zulfa dan neneknya. Mereka senang bukan main.

Zulfa terkaget saat ada yang mendorong pintu kamarnya. Pasalnya, kini sudah lewat beberapa menit tengah malam. Dan ia sudah memastikan bahwa semua sudah tidur dari dua jam yang lalu. Ia menoleh dan agak kaget dengan kedatangan Angga.

"Kenapa, Ga?" tanyanya lembut menyambut tamunya masuk ke dalam kamar.

Angga mengucek matanya dan melirik kertas yang dipegang Zulfa sejenak. "Angga gak mau sekolah," ungkapnya tiba-tiba hingga membuat Zulfa sedikit bingung.

Lambat-lambat, perasaan bingung itu berganti menjadi kemarahan. Walau begitu, Zulfa tak boleh marah. Ia harus tahu alasan kenapa adik sulungnya itu tak mau sekolah. Maka dari itu, ia pun bertanya dengan nada lembut. "Kenapa, Ga? Ada yang ganggu kamu di sekolah? Bukannya nilai-nilai kamu selalu bagus, ya?"

Angga menatap Zulfa penuh pertimbangan. Lalu matanya kemudian beralih pada lembaran yang kini berusaha Zulfa sembunyikan darinya. "Angga tahu kalau uang Nenek dan Kak Zulfa gak cukup untuk biayain kami semua. Jadi, Angga gak mau sekolah lagi. Dan beban kalian bisa berkurang sedikit."

Hati Zulfa sakit mendengar penuturan Angga yang penuh perhatian itu. Ia menggigit bibirnya kuat dan menolak untuk menatap Angga selama beberapa menit. Matanya memanas. Zulfa menarik napas panjang agar bisa menetralkan nada suara dan juga hatinya.

Setelah yakin tak akan menangis di depan Angga, Zulfa kembali melarikan matanya menatap adiknya itu. Sebuah senyum tipis ia lukiskan untuk adiknya. "Kamu harus sekolah. Soal biaya, kamu jangan takut. Lagian, selama ini karna kegigihan kamu belajar. Kamu dapat pengurangan uang sekolah, 'kan? Jadi jangan takut dan tetap sekolah. Kekurangan kita juga gak banyak, kok. Nanti kakak bakal cari cara lain buat nambahin penghasilan. Kamu paham?"

Bagi Zulfa membeberkan kebenaran itu lebih baik daripada menutupinya, lalu membiarkan adiknya itu berpikir macam-macam. Ia harap, setelah adiknya melihat kebenaran itu, adiknya akan mengerti dan memikirkan ulang kembali akan keputusannya.

Angga terdiam. Ia terlihat berpikir. Zulfa menyentuh pundaknya lembut hingga Angga menatapnya.

"Udah. Sekarang lebih baik kamu tidur dulu. Besok pagi baru kita bicara lagi. Hmm?" pintanya sembari mengusap puncak kepala Angga.

Angga masih bergeming di tempatnya. Zulfa masih menantinya dengan senyum lembut hingga tiba-tiba ia bersuara. "Angga bisa kerja," ungkap Angga yakin. Semangat terlihat berkobar di kedua matanya.

Itu membuat Zulfa mengurut pangkal hidungnya gemas. Ia menarik napas dan menghembuskannya gusar. Bukan begini hasil akhir yang ingin dia capai. Tangannya terkepal kuat guna menyalurkan emosinya.

"Angga, kita bicarain ini besok pagi aja, ya?" pintanya lembut dan penuh permohonan.

Tahu bahwa kakaknya sedang diliputi kemarahan. Angga memilih menurut tanpa membantah. Angga keluar dari kamar Zulfa dan menuju kamarnya. Di kamarnya, ia masih belum bisa tidur. Ia malah mulai berpikir apa pekerjaan yang ingin ia cari dan lakukan. Kapan dan di mana ia akan bekerja.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Zulfa berusaha keras agar tak berteriak marah. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak mampu mengatur keuangan panti. Ia marah lantaran ia tak berusaha lebih giat agar neneknya tak usah bekerja lagi di usianya yang sudah tua. Ia marah lantaran ia tak berusaha lebih giat lagi agar keuangan panti bisa tercukupi. Ia juga marah pada keadaan yang tak berpihak padanya.

Pada akhirnya, kemarahan itu tertumpah melalui bulir-bulir bening yang meluncur bebas dari kedua sudut matanya. Tubuhnya gemetar hebat lantaran menangis. Tangisan bisu yang menjadi saksi betapa sakit hatinya saat ini. Ia menangis dan terus menangis hingga tertidur di lantai.

 

[bersambung

 


 Yo! Apa kabar kalian? Jangan lupa baca part sebelumnya dulu, ya.


Zulfa mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu menunggu dengan tenang. Ia melarikan matanya menatap sekeliling koridor yang sepi itu. Padahal, di ujung koridor, terdapat ruangan yang ramai dengan suara tuts papan ketik yang tengah ditekan oleh beberapa orang dengan hebohnya.

“Masuk!” Suara bariton itu menghentikan pelarian mata Zulfa. Zulfa menekan handel pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia menatap pria yang tengah menekuri dokumen itu dengan tenang.

“Duduk!” titah pria itu tenang tanpa menatap Zulfa sama sekali. Zulfa menurut. Ia duduk di atas sofa untuk tamu yang memang disediakan di dalam ruangan itu.

Sekali lagi, Zulfa melarikan matanya ke seluruh penjuru ruangan tanpa kentara. Dapat dilihatnya bahwa beberapa dekorasi dan letak ruangan ini telah berubah. Ruangan yang dulunya sangat kosong itu, kini telah terlihat lebih hidup. Ada beberapa lemari besar yang berisi dokumen. Sebuah meja kecil di antara dua buah sofa yang berhadapan. Dan sebuah lemari setinggi pinggang dan di atasnya terdapat sebuah vas bunga untuk memperindah dekorasi ruangan.

“Ada apa, Zulfa?”

Zulfa yang setengah melamun hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia mendongak dan mendapati Noah membuka kancing jasnya hendak duduk di sofa yang ada di hadapannya.

“Saya dengar dari nenek saya, Bapak kemarin datang ke rumah saya, ya?” tanya Zulfa sopan.

Noah terdiam sejenak terlihat seolah tengah menimbang sesuatu. Beberapa detik berlalu, ia kemudian mengangguk mantap. “Ya, saya ke rumah kamu.”

Belum sempat Noah melanjutkan kalimatnya, Zulfa terlebih dahulu memotong, “Apa ada kesalahan yang saya buat? Atau ada dokumen yang tak sengaja saya bawa pulang?”

Noah menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Karyawan cerobohnya satu ini benar-benar hobi sekali memotong ucapannya. “Kamu tidak melakukan kesalahan. Dan soal dokumen yang kemungkinan terbawa pulang olehmu, saya rasa itu benar. Saya kemarin datang ke kantor untuk mencari proposal promosi yang akan kita berikan selama empat bulan ke depan. Namun, saya tidak bisa menemukannya di dalam lemari arsip ataupun di meja saya.”

Zulfa menggigit bibirnya cemas. Ia mengorek kembali ingatan mengenai dokumen tersebut. Ia ingat kalau itu adalah proposal yang dikerjakan dan dicetak olehnya beberapa hari yang lalu. Zulfa sedikit heran ketika Noah tiba-tiba berdiri dan menuju laci yang ada di mejanya. Mengambil sebuah laporan dan kembali ke tempatnya.

“Dan lagi-lagi, kamu menyerahkan ini ke saya,” ucap Noah lelah. Ia menaruh jurnal pribadi milik Zulfa di hadapan gadis itu.

Zulfa mengumpat dalam hati. Dasar! Bisa-bisanya ia terus memberikan jurnal pribadinya pada atasannya. Benar-benar bodoh. Zulfa meringis dan menatap Noah bersalah. “Maaf, Pak. Sepertinya, lagi-lagi ini tertukar dengan dokumen yang harus saya berikan pada Bapak.”

Zulfa memukul kepalanya pelan. Kemudian, menyambar jurnal tersebut dan memeluknya kuat. Sepertinya otaknya benar-benar bermasalah. Bisa-bisanya ia ceroboh seperti ini. “Saya akan menyerahkan dokumen yang benar untuk Bapak.”

Zulfa pamit undur diri. Setelah menutup pintu. Zulfa menjedotkan kepalnya ke dinding. “Bodoh! Kenapa salah kasih dokumen terus, sih?!” makinya kesal pada dirinya sendiri. Setelahnya, ia kembali ke kubikelnya dan langsung mengobrak-abrik lacinya untuk mencari proposal promosi yang dimaksud oleh Noah.

“Cari apa, Zul?” tanya Anggi seraya melongokkan kepalanya ke dalam kubikel Zulfa.

Zulfa mengangkat wajahnya dan menatap Anggi memelas. “Proposal promosi untuk empat bulan ke depan, Gi,” lirihnya sedih.

Anggi menggeleng pelan, berusaha memaklumi tingkah rekannya yang satu ini. Mencari atau memberikan dokumen yang salah seolah memang ciri khas Zulfa dalam bekerja. Untung saja hasil kerja gadis itu sangatlah bagus dan dia juga sangat cekatan. Pintar dan cepat tanggap juga merupakan kelebihannya sehingga jika perusahaan ingin memecatnya harus berpikir sepuluh kali terlebih dahulu.

Anggi tersenyum tipis. “Itu proposal kapan terakhir kamu pegang, Zul? Terus waktu itu kamu lagi ngapain? Coba kamu ingat-ingat dulu,” saran Anggi.

Zulfa menghentikan aktivitasnya dan mulai mengorek otaknya. Menggali informasi yang menjadi pertanyaan Anggi. Ia ingat, terakhir kali melihatnya adalah beberapa hari yang lalu. Saat itu, ia dimarahi oleh Noah karena salah menyerahkan laporan keuangan bulanan dengan jurnal pribadinya. Lalu, ia memberikan laporan keuangan yang benar. Kemudian, ia menyambar sebuah dokumen yang dikiranya adalah jurnal pribadinya. Namun, ternyata bukan.

“Ah!” seru Zulfa senang membuat keempat orang di ruangan itu terkaget. Zulfa meringis pelan. “Sorry,” ucapnya menyesal.

Zulfa segera membongkar tas miliknya dan benar saja. Ia menemukan proposal itu di dalam tasnya. Kali ini, setelah memastikan telah membawa proposal yang benar sebanyak dua kali. Zulfa berjalan menuju ruangan Noah dan mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Begitu dipersilakan masuk, Zulfa langsung masuk dan menyerahkan dokumen itu. Ia langsung keluar dari sana lantaran Noah tak mengatakan apapun lagi.

Sekembalinya ia di kubikelnya, Zulfa memutuskan untuk merapikan mejanya yang berantakan. Namun, kegiatannya diinterupsi oleh Anggi.

“Zul, kalau bisa. Rapiin kubikel kamu jangan begitu. Nanti dokumen yang akan kamu kasih ke Pak Noah tertukar lagi. Kamu pilah dulu mana dokumen yang beliau butuhkan dan mana yang memang mau diarsip. Yang harus diarsip, kamu langsung taruh di lemari arsip. Yang ingin kamu kasih ke Pak Noah, kamu taruh ke lemari kamu. Dan itu—“Mata Anggi menunjuk jurnal pribadi milik Zulfa yang tergeletak di atas meja—“sebaiknya kamu simpan dulu itu ke dalam tas kamu.”

Zulfa meringis mendengarnya. Benar kata Anggi, pertama yang harus ia lakukan adalah menyimpan jurnal miliknya ke dalam tas dan tidak mengeluarkannya di dalam kantor. Kemudian, ia harus merapikan mejanya. Memisahkan kertas baru dan bekas pada tempatnya. Setelahnya, ia harus memilah dokumen yang ada di lacinya dan memasukkannya ke dalam lemari arsip jika dokumen tersebut sudah tak begitu berguna lagi.

Zulfa memulai kegiatan itu dengan cepat. Ia mengerjakan semuanya sesuai dengan instruksi Anggi. Ketika dilihatnya waktu masih cukup, ia pun beralih membereskan lemari arsipnya. Arsip yang sudah agak lama waktunya segera ia pindahkan ke dalam kotak agar bisa dibawa ke dalam gudang arsip. Ia selesai tepat saat jam pulang.

“Kamu tidak salah pilah, ‘kan?” tanya Noah tak yakin. Ia yang tadi hendak ke toilet sengaja menghampiri Zulfa saat mengetahui Zulfa tengah memilah dokumen yang hendak diarsipkan dan dokumen yang masih harus dikerjakan.

Zulfa mendongak dan menatap tajam atasannya. Ia tak merasa perlu menyembunyikan ketersinggungannya atas ucapan atasannya barusan.

Sadar bahwa Zulfa tersinggung, Noah segera membela diri. “Maaf, bukan maksud saya meragukan kamu. Tapi ... kamu sering salah memberikan dokumen pada saya, ‘kan?”

Zulfa mengangguk pelan. Tak ada yang bisa ia bantah. Ia juga tak bisa menyalahkan atasannya jika menaruh curiga padanya. “Saya sudah cek dua kali sebelum saya masukkan ke dalam kotak. Bapak bisa cek sendiri nanti,” ucapnya tenang.

“Baiklah. Nanti setelah saya agak senggang, saya akan cek isi kotak ini,” balas Noah tenang.

Mata Zulfa membelalak tak percaya. Atasannya ini benar-benar menyebalkan sekali. Tak bisakah pria itu mengatakan bahwa ia percaya padanya sekali saja?

[bersambung]

 Yo! Biar gak bingung, baca part sebelumnya dulu, ya. Selamat Membaca!


“Saya rasa pembicaraan kita sudah lama selesai.” Zulfa membuka percakapan dengan nada dingin dan ekspresi datar. Ia bahkan tak repot-repot mempersilakan tamunya untuk masuk dan duduk di sofa. Apalagi untuk menyediakan minum.

Wanita itu tak terpengaruh sama sekali. Berbeda dengan beberapa malam yang lalu saat bertemu Zulfa dan memanggil seorang wanita tak dikenal dengan sebutan mama. Kini ia terlihat tenang dan bisa mengontrol emosinya.

Zulfa bersidekap. Ia menghentakkan kakinya tak sabar. Ia ingin berkata kasar dan segera mendorong wanita itu keluar dari rumah. Akan tetapi, ia takut neneknya melihatnya secara kebetulan. Maka dari itu, ia berusaha menahan dirinya sebaik mungkin.

“Mama hanya datang untuk mengunjungi putriku. Mama hanya ingin melihatnya. Apakah Mama tak diizinkan untuk melakukan hal itu?” tanya wanita itu lesu. Mimiknya sendu. Matanya berkaca-kaca dan seulas senyum miris terukir di wajahnya yang cantik.

Zulfa terbahak mendengarnya. Apa yang baru saja ia dengar? Sepertinya ia memiliki masalah pendengaran dan perlu mengunjungi dokter THT. “Putri Anda?” tanya Zulfa agak sinis.

Wanita itu mengangguk mantap. Ia melangkah maju selangkah dan menatap Zulfa penuh kerinduan. Zulfa menyadari itu, tetapi ia tidak merasa senang sama sekali. Ia malah merasa ngeri.

“Setahu saya, putri Anda sudah meninggal,” sinis Zulfa seraya menatap tajam wanita itu tepat di manik matanya.

Wanita itu tetap tenang. Emosinya terkendali. Ia tak kaget dan tak marah. Ia mengerti apa yang menyebabkan Zulfa mengatakan hal tersebut. Ya, bisa dibilang putri kecilnya sudah mati di hari itu. Putri kecilnya yang manis. Kini hanya ada putri kecilnya yang selalu menyimpan amarah dan dendam padanya.

“Mama minta maaf, Nak,” lirih wanita itu pelan. Sebulir bening jatuh dari sudut matanya.

Sekali lagi, Zulfa terbahak dengan keras. “Maaf?” tanyanya dengan nada tinggi. “Simpan saja maaf Anda. Maaf yang Anda sampaikan seribu kali atau bahkan satu juta kali itu tak akan bisa mengembalikan Ayah saya. Silakan pergi dari sini sebelum saya menyeret Anda keluar,” hardiknya murka.

“Zulfa! Kamu tidak boleh seperti itu, Sayang,” tegur Nayla lembut. Ia yang tadinya hendak ke dapur, tak jadi karena melihat cucunya tengah bersitegang dengan seseorang. Akan tetapi, ia tahu bagaimana sifat cucunya itu. Jika ia bersitegang dengan seseorang, orang itu pastilah ‘dia’. Wanita yang sudah melahirkan cucunya, Angela.

“Angela, sebaiknya kamu pulang dulu. Biarkan Zulfa tenang, nanti baru kita bicarakan lagi, ya,” pinta Nayla lembut pada Angela.

Walau wanita itu ingin menggeleng, tetapi ia tahu ia tak boleh begitu. “Iya, Ma. Nanti Angel balik lagi, ya. Angela pamit kalau gitu. Lagian, bagi Angela udah cukup kalau udah lihat wajah juteknya Zulfa.” Sebuah senyum tipis ia berikan pada Nayla.

Nayla mengangguk pelan mengantar kepergian Angela. Selepasnya, ia menatap cucunya dengan sayang. Ia menarik Zulfa ke dalam pelukannya. Ia tahu Zulfa sedang tidak baik-baik saja saat ini. Selalu seperti ini, jika gadis itu bertemu dengan ibu kandungnya. Zulfa selalu akan kehilangan arah.

Beberapa malam lalu juga, walau gadis itu tak cerita padanya. Gadis itu menunjukkan tanda-tanda yang sama. Tubuh Zulfa bergetar hebat. Napas gadis itu terengah-engah dan wajahnya pucat. Nayla menepuk pelan punggung cucunya seraya mengelus rambutnya sayang.

“Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Bernapaslah dengan benar,” pinta Nayla lembut.

Zulfa memejamkan matanya. Berbagai ingatan buruk masa kecilnya saling bertumpang tinding. Teriakan, tangisan, dan erangan kesakitan memekakkan telinganya. Zulfa melenguh pelan. Kepalanya terasa amat sangat sakit seolah baru saja dihantam oleh palu raksasa. Ia merasakan jantungnya seolah diremas oleh tak kasat mata. Tubuhnya perlahan semakin lemas hingga ia menyerah pada rasa sakit dan takut itu.

“Zulfa!” seru Nayla panik. Beberapa anak yang memang sedari tadi mengintip dari balik tembok berhamburan keluar.

“Permi—“ Sapaan itu terputus saat melihat orang yang dicarinya terkulai lemas di pelukan seorang nenek-nenek serta dikelilingi oleh beberapa anak kecil berbagai usia. Noah berjalan cepat menuju tempat gadis itu dan langsung mengangkat tubuhnya.

“Mari, Nek. Biar saya bantu antar ke rumah sakit.” Noah berbalik menuju pintu keluar. Akan tetapi, bajunya ditarik oleh adik-adik Zulfa. Noah berbalik dan menatap anak-anak itu dengan padangan heran.

“Om, mau bawa Kak Zulfa ke mana?” tanya Rangga penuh curiga.

“Rumah sakit,” jawab Noah singkat, lalu berbalik lagi. Namun, lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena Rangga menghadangnya.

Bocah kecil yang berusia 14 tahun itu merentangkan tangannya lebar-lebar dan menatap Noah tajam. Nayla yang melihat itu segera menginterupsi. “Maaf, boleh tolong bawa Zulfa ke kamarnya saja?” tanyanya lembut.

Alis Noah berkerut tak mengerti. Nayla tersenyum lembut. “Tak apa. Tolong bawa Zulfa ke kamarnya saja. Dia hanya perlu istirahat. Bukan masalah besar,” jelas Nayla tak mengungkapkan seluruhnya.

Noah mengangguk pelan. Walau ia tak kenal nenek yang ada di hadapannya, tetapi satu hal yang ia tahu. Wanita tua itu merupakan nenek kesayangan Zulfa. Keluarga kandung Zulfa satu-satunya. Dan ia yakin wanita itu pasti lebih apa yang harus dilakukan dengan Zulfa saat ini.

“Terkadang, Zulfa memang akan seperti ini. Beberapa hari yang lalu, setelah pulang bekerja. Ia juga seperti ini. Penyebabnya hanya satu,” ungkap Nayla muram. Mimiknya menggelap begitu netranya menatap Zulfa yang tak sadarkan diri.

“Kalau saya tidak salah. Anda adalah pemuda yang mengantarkan Zulfa pulang beberapa malam yang lalu, ‘kan?” tanya Nayla sembari tersenyum sopan. Ia menggiring pemuda itu keluar dari kamar Zulfa dan menuju ruang tamu.

“Ya, Nek. Itu saya. Kalau boleh tahu, Zulfa sakit apa, ya?” tanya Noah hati-hati tanpa mengabaikan sopan santun.

“Nenek tak bisa menceritakan cerita lengkapnya padamu. Hanya Zulfa yang bisa menceritakannya. Itu adalah privasi miliknya dan nenek tak boleh melanggarnya. Dia memang akan selalu seperti itu setelah bertemu dengan ibu kandungnya,” ucap Nayla sembari tersenyum sendu. Mata itu menyimpan begitu banyak kepedihan hingga Noah tak sanggup untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Beberapa saat berlalu, keduanya sudah berbincang santai mengenai hubungan Zulfa dengan Noah. Dan juga bagaimana kelakuan Zulfa selama berada di kantor. Mereka ditemani oleh secangkir teh hangan dan beberapa kukis yang dipanggang oleh Zulfa pagi tadi.

[bersambung]

 Hola! Baca dulu part sebelumnya biar gak bingung, ya. Selamat membaca!


Zulfa bersenandung riang sembari memotong bawang. Selesai memotong bawang, ia beralih pada cabai, lalu pada kentang dan tempe. Menu makan siang hari ini adalah sambel tempe. Zulfa tersenyum manis sembari memotong dadu tempe dan kentang.

“Hayo! Kak Zulfa habis dapat apa, nih?” seru Gina mengagetkan Zulfa hingga terlonjak dari kursinya dan tanpa sengaja mengiris telunjuknya.

Zulfa memandang adiknya itu dengan kesal. “Gina! Bisa gak sih kalau datang gak usah ngagetin?” hardiknya sebal. Ia menghisap darah yang mengalir dari jarinya.

“Kak Zulfa berdarah!” seru Chelsea panik hingga anak-anak lain berdatangan dan menatap Zulfa dengan cemas.

Selang beberapa menit, Zulfa masih belum bisa meredakan kehebohan tersebut. Ia menggaruk kepalanya frustasi saat beberapa adik-adiknya menangis melihat darah yang terus menetes dari telunjuknya. Sementara itu, Gina pun ikut menangis akibat merasa bersalah.

“Zulfa, obatin dulu tangan kamu. Baru kamu tenangin adik-adik kamu,” titah Nayla—nenek mereka—lembut hingga membuat Zulfa menyadari kesalahannya. Bisa-bisanya ia menenangkan adik-adiknya yang cemas akibat ia terluka dengan tangan yang berlumuran darah.

Zulfa bergerak menuju wastafel dan mencuci darah tersebut hingga bersih. Kemudian ia mengambil kotak obat dan melumuri tangannya dengan obat merah. Setelahnya, ia menempelkan perban di tangannya.

“Nah! Selesai! Lihat! Kakak sudah gak berdarah lagi!” serunya riang sembari memamerkan tangannya pada adik-adiknya. Ia mengalihkan padangannya pada Gina yang terlihat bersalah.

“Maaf, ya, Gin. Kakak gak maksud buat membentak kamu. Kamu mau ‘kan maafin kakak?” tanya Zulfa lembut seraya mengusap air mata yang mengalir dari kedua sudut mata gadis kecil itu.

Gina mengangguk pelan. Ia menatang Zulfa sungkan dan memeluk Zulfa. “Gina juga minta maaf sudah bikin kakak terluka,” ucap gadis kecil itu menyesal.

Zulfa tersenyum lebar. Ia membalas pelukan itu dan mengelus puncak kepala Gina dengan sayang. Melihat Zulfa yang memeluk Gina, anak-anak lain pun tak mau kalah. Mereka berbondong-bondong menyerang Zulfa dengan pelukan hingga gadis itu tertawa senang.

“Nenek!” Zulfa merentangkan kedua lengannya lebar dan menatap Nayla yang tengah menatap cucu-cucunya dengan pandangan senang. Nayla mengerti permintaan Zulfa. Ia mendekati cucunya dan memeluk Zulfa hangat. Tak hanya Zulfa, ia juga memeluk cucu-cucunya yang lain.

Selepasnya, Zulfa bisa memasak dengan tenang. Gina, Chelsea, dan Randy membantunya memasak. Kerja sama tim yang dipimpin oleh Zulfa sukses besar menghasilkan makan siang lezat. Siang itu, mereka makan siang dengan suasana hangat dan riang.

“Habis ini gimana kalau kita main bareng?” ajak Zulfa menatap adik-adiknya dengan antusias.

“Kakak gak kerja?” tanya Angga pada Zulfa heran. Biasanya, setiap hari minggu seperti ini, Zulfa lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar berkutat dengan laptop. Dan adik-adiknya menganggap ia tengah bekerja.

Zulfa meringis kecil. Ia tak tahu bahwa ternyata di mata adik-adiknya ia adalah seorang workaholic. Ia tersenyum dan menggeleng mantap. “Gak. Hari ini kakak bakalan main sama kalian sampai kalian bosan sama kakak.”

Ya. Hari ini, ia ingin menghabiskan waktunya yang berharga dengan adik-adiknya. Setelah percakapannya dengan Dhinar kemarin. Ia teringat bahwa ia sudah lama tak bermain dan berbincang dengan adik-adiknya. Walau mereka bukanlah saudara kandung, mereka semua tetaplah keluarganya. Keluarga kecilnya yang hangat dan bahagia.

Tanpa mereka, ia juga tak akan bisa tumbuh dengan ceria dan kuat seperti ini. Maka dari itu, untuk berterima kasih pada mereka. Ia juga ingin memperlakukan adik-adiknya dengan baik. Mungkin, itu juga yang ingin ayahnya lakukan pada anak-anak ini.

“Oke! Ayo kita main petak umpet. Kak Zulfa yang jaga. Kalau dalam waktu setengah jam Kak Zulfa gak bisa nemuin kita. Kak Zulfa kalah. Dan kakak harus terima hukuman dari kita semua. Setuju?” tanya Randy yang segera saja diamini oleh saudara-saudaranya.

Dengan itu, semua berpencar mencari tempat persembunyian masing-masing. Zulfa pun mulai menghitung mundur dari angka 50. Setelah selesai menghitung, ia berdiri dan memindai sekelilingnya dengan cermat. Mencari tanda-tanda di mana kemungkinan adik-adiknya bersembunyi.

Zulfa masuk ke dalam rumah dan memulai pencariannya di dapur. Di sana, ia menemukan Gina yang tengah bersembunyi di kolong meja. Gadis kecil itu serta merta memprotes apa yang Zulfa lakukan. Akan tetapi, Zulfa hanya tertawa puas dan mengabaikan segala macam protes yang disuarakan oleh adiknya itu.

Zulfa pun bergerak menuju perpustakaan mini yang didirikan oleh neneknya. Matanya menelisik setiap sudut ruangan. Di sela-sela lemari, ia menemukan Randy. Sama halnya dengan Gina, Randy pun memprotes jika ia ditemukan terlalu cepat. Lagi-lagi, Zulfa hanya tertawa dan mengabaikan segala protes yang disuarakan adiknya itu.

Ia kemudian bergerak menuju pintu depan. Di sana, ia melihat tamu tak diundang. Tangannya terkepal kuat. Dengan nada dingin dia berucap, “Anda tidak diterima di rumah ini. Silakan keluar dari sini dengan kaki Anda sendiri.”

Gina dan Randy yang setelah ditemukan selalu mengekorinya menatap Zulfa heran. Mereka tak pernah mendapati kakak tertua mereka bersikap sedemikian tidak sopannya. Apalagi dengan orang tua. “Kak? Kata nenek gak boleh ngusir tamu,” sela Gina pelan.

Zulfa menghela napas lelah. Ia menatap Gina dan Randy sejenak sebelum akhirnya memijat pangkal hidungnya lelah. “Kalian cari yang lain dulu, ya. Lalu pergi ke halaman belakang. Dan jangan kasih tahu nenek kalau ada orang yang datang. Kakak yang akan mengurusnya sendiri. Mengerti?”

Setelah mengangguk paham. Kedua bocah kecil itu beranjak pergi dari sana. Zulfa menatap wanita itu tajam, lalu berdecih pelan. Dalam hati, ia mengumpati wanita yang hanya bisa mengacaukan hidupnya saja.


[bersambung]