Cerbung Zulfa Heart's Problem Part17

 Yo! Masih ingat cerita sebelumnya? "Kamu ngerasa gak sih, Zul?" tanya Rio seraya menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Tangan Zulfa yang hendak menyuapkan sesendok nasi menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Rio dengan alis terangkat. “Ngerasa apaan? Kalau kamu jadi makin nyebelin[....]

Read More

Cerbung Zulfa Heart's Problem Part16

 Yo! Masih ingat part sebelumnya, kan?"Malam, Ma." Zulfa memeluk dan mencium kedua pipi Dhinar dengan canggung. Senyum Dhinar mengembang mendapat perlakuan seperti itu. Ia mengelus punggung Zulfa dengan lembut. "Apa kabar kamu, Sayang?" tanyanya lembut seraya mengurai pekukannya. Zulfa tersenyum manis.[....]

Read More

Cerbung Zulfa Heart's Problem Part15

 Yang sebelumnya jangan lupa baca dulu, ya. “Wah! Ada angin apa nih Tom dan Jerry berangkat bareng ke kantor?” tanya Anggi pada kedua rekannya yang baru saja sampai. Zulfa memandang Rio cuek. Tadi pagi, mereka sudah sempat berantem karena masalah kemeja dan celana yang dipakai oleh Rio. Pria[....]

Read More

Cerbung Zulfa Heart's Problem Part14

 Yang sebelumnya jangan lupa baca, ya..  Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 [....]

Read More

Cerpen Cukup Satu Orang Saja

“Kei?” panggil Raka sembari melambaikan kedua tangannya di depan wajah Keira. Kening pemuda itu berkerut tak suka. Keira selalu seperti ini. Setiap kali mereka berbicara, Keira akan selalu terjun ke dunianya sendiri dan tak acuh lagi padanya. Raka menjentikkan jarinya dengan keras dan cepat beberapa kali[....]

Read More

Cerbung Zulfa Heart's Problem Part13

 Yo! Part sebelumnya sudah dibaca belum?“Thanks,” ucap Zulfa tulus begitu turun dari motor Rio.Rio memandang heran pada rumah yang disebut oleh Zulfa. Kening pemuda itu berkerut dalam. Ia tak pernah tahu bahwa rumah yang Zulfa maksud adalah panti asuhan.“Kamu heran, ya?” Zulfa tersenyum samar.[....]

Read More

Cerbung Zulfa Heart's Problem Part12

 Yo! Yang sebelumnya udah dibaca belum?Zulfa memindahkan angka-angka yang ada pada faktur ke dalam komputernya dengan gelisah. Setiap satu menit sekali, ia menjulurkan kepalanya tinggi-tinggi guna mengintip ke pintu ruangan mereka seolah tengah menunggu sesuatu. Lalu, kemudian ia mengetik lagi[....]

Read More