Giana mengambil buku bersampul coklat miliknya dan menatapnya beberapa lama. Menimbang apakah harus ia bawa ke mana-mana ataukah lebih baik ditinggal di rumah saja. Namun, jika ditinggal di rumah, bisa saja Ariani akan membuka dan membaca isi buku tersebut. Padahal, buku ini memiliki isi yang cukup berbahaya.

Setelah menimbang cukup lama, ia menyelipkan buku tersebut di bawah tumpukan bajunya di lemari setelah membungkusnya dengan salah satu baju miliknya. Ia yakin, Ariani tak akan menyangka bahwa buku itu ada di sana karena Ariani selalu menyimpan sesuatu di tempat yang benar, tak seperti dirinya yang sering menyembunyikan sesuatu di tempat aneh.

Walau begitu, ia tetap tak begitu yakin Ariani akan menyerah untuk menemukan buku tersebut. Apalagi setelah sempat melihat isi buku tersebut. Ia harus memikirkan hal lain sebagai pengalih perhatian Ariani selama ia pergi camping. Giana mengambil ponsel, lalu menggulirkan layarnya menuju platform dengan logo dengan bentuk seperti kamera polaroid berwarna merah. Senyumnya terkembang melihat tampilan beranda platform tersebut. "Ini dia!" serunya senang.

Tanpa menunggu waktu lama, ia segera mencari tahu mengenai drama baru yang dimainkan oleh Park Jinyoung GOT7--Devil Jugde. Setelahnya, ia mencari tahu drama tamat lainnya yang dimainkan oleh penyanyi sekaligus aktor tampan itu. Setelah membuat daftarnya, ia meletakkannya di atas meja belajar sang kakak. Tak lupa ia menulis catatan kecil.

'Jangan kangen aku! Ngebucin aja sama si gans Jinyoung <3'



#agustusrawspunyacerita
#hariketujuhnulistetapkutempuh


Ariani mengintip dari balik celah pintu kamar yang tak tertutup rapat. Rasa penasaran mendorong kakinya melangkah masuk diam-diam. Ia menghampiri adiknya yang tengah sibuk menuliskan sesuatu pada sebuah buku coklat yang ada sejak Giana mengatakan akan berubah. Kepalanya mengintip dari bahu adikknya.

Kedua matanya membelalak lebar saat mendapati berbagai potongan foto yang ia yakini merupakan TKP pembunuhan yang dituduhkan pada ayah mereka. "Kamu dapat dari mana ini, Na?" tanyanya kaget.

Giana menoleh, kedua tangannya bergerak cepat menutup buku bersampul coklat itu. Ditatapnya sang kakak sejenak. Aura tegang menyeliputi kedua kakak beradik itu selama beberapa menit. Apalagi tak ada yang bersuara. 

Giana menyelinap dari bawah kungkungan lengan sang kakak, lalu berjalan menjauh. Diletakkannya buku bersampul coklat itu ke atas lemari. Ariani mengejarnya. "Berikan," todongnya seraya mengulurkan telapak tangannya terbuka.

Giana mendengkus, "Ambil saja sendiri kalau kakak bisa." Setelahnya, gadis itu berjalan menjauh dari sang kakak dan mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ada di ruangan tersebut.

Ariani berdecih. Tatapan sebal ia berikan pada sang adik. Dalam hati, ia terus mengomeli adiknya. Walau ia sudah berjinjit untuk memaksimalkan tinggi badannya dan mengulurkan tangannya sepanjang mungkin. Ia tetap tak bisa menggapai buku sakti sang adik. Tak hilang akal, ia mengambil kursi dan meletakkannya di depan lemari tersebut. 

Mata Giana membelalak kaget saat melihat sang kakak menggunakan alat bantu, ia segera berdiri dan berlari, menyambar buku tersebut. Kemudian, berlari ke luar rumah. "Belum saatnya kakak tahu," ujarnya meninggalkan sang kakak yang hanya bisa bengong.



#agustusrawspunyacerita
#harikeenamyukbisayuk


Giana yang masih berkutat dengan buku coklatnya, menatap ke luar jendela. Keningnya berkerut saat melihat tetes air yang menempel pada jendelanya. "Hujan," gumamnya kecil. Matanya ia alihkan pada jam dinding yang ada di kamarnya. Jarum pendeknya berada di antara angka lima dan enam, sedangkan jarum panjangnya sudah melewati angka tujuh menuju angak delapan. 

Kakinya yang tadinya terlipat, membuka lebar, lalu ia gunakan untuk menopang tubuhnya. Kakinya melangkah menuju pintu depan, sebelum keluar. Tangan kurusnya menyambar sebuah payung berwarna hitam. Dengan gerakan ringan, ia membuka pintu. Sebelum meninggalkan rumah, ia menguncinya. 

Langkah ringannya membawanya menuju depan gang rumahnya. Keadaannya tak begitu gelap lantaran lampu jalanan sudah dihidupkan. Sembari menunggu, Giana bersenandung kecil mengikuti alunan yang menyapa gendang telinganya. Matanya terpejam, menghirup aroma tanah yang naik akibat gerimis padat ini. 

"Lagi apa, Dek?" Sebuah suara familiar menyapanya, membuat matanya terbuka. Binar senang terbit begitu saja di manik coklatnya.

"Nungguin kakak," jawabnya pada Ariani yang sudah masuk ke dalam lindungan payung. 

Ariani mengacak rambut Giana sayang. "Aduh! Manisnya adek kakak. Udah mandi belum?" tanyanya saat melihat seragam putih abu-abu masih menempel sempurna di tubuh kurus sang adik.

Giana tersenyum, lalu menggeleng. "Ini sekarang mau mandi," ujarnya membuat kening Ariani terlipat.

"Sekarang? Di sini?" tanyanya.

Giana mengangguk mantap. "Tentu aja! Kan udah ada shower alaminya," balasnya seraya menutup payung hitam tersebut. Tak perlu menunggu waktu lama, tangisan kecil bumi pun mengguyur mereka berdua. Malam itu, keduanya menari di bawah guyuran gerimis yang padat.


#agustusrawspunyacerita
#nulisteruspantangmundurbiareksisdiharikelima



Giana membongkar album foto yang mengabadikan momen-momennya bersama sang ayah. Kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat selembar memori yang memuat dirinya saat masih kecil berlumur tepung yang tengah digendong oleh sang ayah, lalu di samping kiri ayahnya Ariani memeluk seraya tersenyum lebar ke arah depan.

***

"Papa! Aku mau cake," pinta seorang gadis cilik sembari memanjat kaki sang ayah yang tengah duduk menonton televisi.

Angga menunduk dan segera mengangkat malaikat kecilnya. "Kok tiba-tiba, Sayang?" tanyanya heran.

Pipi di wajah mungil itu menggembung kesal. Ia yakin ayahnya pasti melupakannya. Hari yang sudah ia tunggu-tunggu dari seminggu yang lalu. Lima belas menit telah berlalu, ayah dan anak itu masih diam. Giana kecil pun sudah tak tahan lagi, tangisnya pecah membuat sang kakak yang baru saja pulang sekolah segera berlari masuk sembari berteriak panik.

"Adek! Kamu kenapa?" Bahu Ariani merosot lemas saat melihat sang ayah ada di rumah. Ia kemudian menatap sang ayah meminta penjelasan. Akan tetapi, sang ayah hanya mengangkat bahu seraya menggerakkan bibir membentuk kata "cake" berulang kali. Ariani menepuk keningnya kuat.

Mampus! Bisa-bisanya aku lupa, batinnya panik.

"Adek, kita bikin aja, yuk. Sekarang kita bikin cake ulang tahun adek. Semalam kakak udah beli bahannya. Lebih seru buat sendiri, loh," bujuk Ariani membuat senyum sang adik kembali terkembang. Sepasang ayah anak itu pun menghela napas lega, merasa beruntung karena membujuk Giana merupakan pekerjaan yang mudah.

***

"Ah! Itu dia! Foto!" seru Giana senang, lalu berlari keluar kamar. Hampir saja ia menabrak Ariani yang baru masuk ke rumah. Beruntung refleks sang kakak cepat.

#agustusrawspunyacerita
#harikeempatmasihsemangatnuliswalauidekabur


Giana menghela napas lelah. Matanya menekuri selembar formulir itu dengan malas hingga sebuah suara menegurnya. 

"Hei, anak pembunuh! Kamu jangan ikut! Siapa tahu nanti kamu bakal membunuh salah satu dari kita di acara camping itu," ujar seorang gadis berpenampilan modis walau hanya memakai seragam putih abu-abu.

Giana memilih untuk tak menghiraukannya, tak ada gunanya. Ia juga malas mengikuti acara tersebut, tetapi apa daya jika itu harus diikuti oleh semua murid. Untuk biayanya, ia sama sekali tak masalah. Selain karena tabungannya masih ada, ia juga masih melakukan freelance berbagai pekerjaan.

"Sekarang kamu sudah budek, ya?" maki gadis itu kesal. 

Giana kembali memilih untuk tak mengacuhkannya. Ia hanya diam sambil menatap formulir tersebut. Helaan napas lelah meluncur turun dari bibir tipisnya. Ia malas jika harus masuk ke hutan. Walau dulunya, ia dan kakak serta ayahnya sering berkemah di setiap liburan sekolah. Ia sama sekali tak masalah jika diajak oleh sang ayah ke hutan belantara mana pun.

***

"Papa!" Angga yang baru saja pulang langsung menangkap Giana yang melompat ke pelukannya. "Cuti Papa sudah diterima?" tanya gadis itu penuh harap.

Angga muram membuat gadis kecil yang ada di pelukannya ikut muram. Walau begitu, sedetik kemudian, keceriaan kembali menghiasi wajah mungilnya. "Gak apa, kok. Kita kan bisa jalan-jalan lagi liburan semester depan," ujar gadis kecil itu riang.

Ariani mengambil alih Giana dari gendongan sang ayah. "Iya, Na. Lagian walau gak jalan-jalan ke luar, yang penting 'kan kita tetap bertiga," ujar Ariani seraya menjawil hidup adikknya gemas.

Angga terbahak, puas mengerjai kedua putrinya. Ia pun mendorong kedua putrinya masuk ke dalam kamar. "Sana kalian beres-beres. Kita bakal jalan-jalan ke hutan. Nanti kita camping di sana. Gimana? Senang, 'kan?"

Besoknya, Ariani hanya bisa menganga melihat tempat tujuan mereka. Angga benar-benar membawa mereka entah ke belantara mana. Ia bahkan tak tahu berapa jam mereka duduk di dalam mobil. Hanya satu hal yang ia rasakan, bokongnya kebas. Sesampainya tempat tujuan, ia pun kehilangan kata-kata akibat pemandangan yang mereka jumpai di sana sini hanyalah pepohonan tinggi.


#agustusrawspunyacerita 
#hariketigatetepnulisbiarpunmager

Ariani mengintip dari balik celah pintu kamar sang adik. Ia melihat adiknya lagi-lagi sibuk dengan buku tua bersampul coklat itu. Samar-samar, memorinya mengatakan bahwa ia tahu buku apa itu. Akan tetapi, ia benar-benar tak bisa mengingatnya untuk saat ini. Selintas ide jail muncul di benaknya.

Kaki rampingnya menuntunnya menuju ruang tengah. "Na! Giana!" panggilnya pelan. Kedua sudut bibirnya tertarik saat mendengar balasan sang adik yang sudah bisa ia tebak.

Ariani menggigit bibir dalamnya agar tawanya tak pecah dan menyembur keluar. Mulutnya terbuka, tetapi ucapannya terpotong oleh Giana.

"Cuma tes kuping, kok," sela Giana cepat yang entah kapan sudah berdiri bersandar di tembok kuning itu sembari memperhatikan Ariani. "Candaan kakak basi, nah!" lanjutnya lagi.

Walau begitu, keduanya tertawa lepas. Candaan yang mereka lakukan semasa sang ayah masih ada. Candaan terakhir yang mereka lakukan di hari terakhir sang ayah berangkat dan tak kembali lagi hingga saat ini.

****

"Kalian baik-baik, ya! Ariani yang semangat hari pertama kerjanya! Giana belajar yang benar. Jangan mengkhayal terus!" pesan Angga pada kedua putrinya.

Giana dan Ariani segera meletakkan telapak tangannya di dahi masing-masing hingga tawa ketiganya pecah berserakan memenuhi ruangan tersebut. Angga yang sudah selesai mengikat tali sepatunya pun berdiri. Menepuk bokongnya beberapa kali, lalu meregangkan otot. 

"Papa pergi, ya," pamitnya dengan senyum cerah—secerah matahari pagi.

"Papa!" panggil Ariani membuat Angga menoleh dengan sebelah alis terangkat. Setelah menunggu satu menit penuh, Ariani tak mengatakan apa pun hingga ia pun melangkah balik menuju rumah. 

"Cuma tes kuping, kok," canda gadis itu. Sekali lagi, tawa memenuhi ruangan tersebut. Angga hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan dua putrinya. Walau begitu, ia tersenyum lebar.

"Kuping Papa masih bagus. Kalau udah gak bagus nanti kalian harus temenin Papa buat beli kuping baru, ya," seloroh Angga membuat kedua putrinya mengacungkan jempol. Setelahnya, ia pun benar-benar pamit bekerja.


#agustusrawspunyacerita
#nulisharikeduagabolehbaper

Tangan kurus itu aktif menggunting kertas beberapa lembar kertas warna-warni berisi tulisan, lalu menempelkannya pada bukunya. Senyum kecilnya terkembang puas saat melihat hasil karyanya yang rapi. Setelah selesai, ia membereskan sisa kertas yang tak digunakan lagi dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Kemudian, tangan kurusnya bergerak cekatan menyusun kembali semua perkakas yang ia gunakan tadi pada tempatnya.

"Selesai," desahnya puas. 

"Kamu ngapain, Na?" Pintu putih yang tertutup rapat itu diketuk dari luar. Suara lembut memanggilnya hingga ia menyimpan buku tersebut dengan terburu-buru sebelum membuka pintu.

Pintu terbuka dan menampilkan sesosok wajah murah senyum dan cantik. "Aku gak ngapa-ngapain, kok, Kak." Seulas senyum tipis ia hadiahkan pada wanita yang berselisih umur 10 tahun dengannya itu.

"Kalau gak ngapa-ngapain kenapa pintunya ditutup rapat gitu, Na?" Lagi, sang kakak bertanya lantaran tak dapat menyudahi rasa penasarannya.

Giana menggeleng. "Hanya sesuatu. Aku ingin berubah. Aku gak bisa terus kayak gini, 'kan, Kak?" 

Sendu dirasakan oleh keduanya. Ariani mengusap lembut puncak kepala adiknya. Ia mengangguk mantap. Mereka memang harus berubah. Sesuatu harus dilakukan. Mereka tak bisa hidup dalam terus dengan label "anak pembunuh". 

"Harus, dong. Kita harus berubah. Mari kita pindah dan cari lingkungan di mana kita bisa hidup tenang," ajak Ariani lembut.

Giana menggeleng tegas. "Bukan. Itu namanya melarikan diri. Sudah cukup kita melarikan diri, Kak. Ayo kita kumpulkan senjata untuk memberikan serangan balasan."

Ya, cukup sudah mereka diam dan menerima semua cacian yang dilemparkan untuk mereka. Tak ada alasan mereka harus menerima itu semua. Jika mereka diam saja, mereka akan digilas habis oleh manusia-manusia kelaparan itu. Mereka harus bertindak, mengumpulkan senjata sebanyak mungkin untuk membalikkan keadaan.


#agustusrawspunyacerita
#yuknulisbarengrawshari1