"Dek, sini dulu!" panggil Hendrik pada putrinya—Hellen—dengan nada heran. Jemarinya sedari tadi mengetuk-ngetuk layar ponsel pintarnya. Sementara matanya sibuk menelisik layar ponsel pintar yang saat ini tengah memutarkan sebuah video.

Hellen berjalan gontai dari kamarnya ke arah sang Papa. Ia sedikit menunduk menatap Hendrik yang tengah duduk dan sesekali melirik pada layar ponsel sang Papa. Walau sebenarnya hal tersebut tak sopan, tetapi ia tetap melakukannya demi membunuh rasa penasarannya.  "Apa, Pa?"

Hendrik mengayunkan tangannya meminta putrinya agar lebih mendekat. Hellen pun memilih untuk berjongkok agar tinggi mereka sejajar. Ia kemudian menatap sang papa jengkel karena Hendrik hanya fokus pada ponsel pintarnya saja.

"Apa, sih, Pa? Udah manggil orang, tapi Papa malah sibuk sendiri sama ponsel Papa," rajuknya kesal.

"Oh!" Hendrik menyodorkan ponselnya dan menunjuk-nunjuk. "Ini ... kalau Papa mau simpan video ini, caranya gimana, Dek?"

Hellen mengulurkan tangannya untuk mengambil alih ponsel pintar tersebut. Ia memgerutkan keningnya dalam. "Ini aplikasi apa, Pa? Facebook?"

Hendrik mendongak menatap putrinya bingung. Tahu bahwa sang papa tak akan bisa menjawab pertanyaannya, Hellen pun memutuskan untuk mengecek sendiri. Dan benar saja, aplikasi yang dibuka Hendrik adalah Facebook.

"Gak tahu," ucap Hellen sembari menyodorkan kembali ponsel pintar Hendrik.

"Loh? Kok gak tahu? Masa kamu yang anak muda gak tahu cara simpan video ini? Paman kamu saja bisa,  loh!" balas Hendrik tak terima.

Hellen memutar bola matanya malas. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah yakin nada suaranya aman, gadis itu pun berucap, "Ya, namanya aku udah gak pernah pake Facebook lagi. Gimana bisa tahu coba?"

"Ah! Payah kamu, Dek!" cibir Hendrik membuat kekesalan Hellen memuncak.

"Papa aja yang lebih sering pake gak tahu apa lagi Hellen. Papa lebih payah dong berarti," ledek Hellen tak mau kalah.

Hendrik tertawa. "Beda dong Papa sama kamu. Papa kan udah tua. Lah, kamu? Masih muda. Masa gak bisa? Harusnya kan kamu lebih canggih dari Papa," balas Hendrik dengan nada jenaka. Walau begitu, ia mengontrol ekspresinya seserius mungkin.

Hellen menghembuskan napas gusar. Ia menatap tajam sang Papa. "Memangnya kalau aku masih muda berarti aku bisa tau segalanya gitu? Lagian kalau Papa mau cari yang canggih jangan anak dong. Cari robot aja, tuh. Canggih."

Sebuah senyum tipis muncul di bibir keduanya. Hendrik mengangkat alisnya dan mengancam Hellen. "Payah, nih, anak Papa. Papa coret dari Kartu Keluarga (KK) juga nih."

Sebuah senyum kemenangan muncul di wajah Hellen. Ia mengedipkan sebelah matanya nakal dan membentuk huruf 'O' dengan telunjuk dan jempolnya pada Hendrik. "Oke. Nanti aku bantuin tip-ex sama laminating, Pa. Beres, 'kan?"

Hendrik terbahak keras. Ia mengacak rambut putrinya gemas. Memang putrinya yang satu ini selalu suka menjawabnya, apapun itu persoalannya. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.

"Nanti nama kamu hilang dong, Dek. Udah gak terdaftar lagi di KK kita," balas Hendrik sembari menaikkan sebelah alisnya.

Hellen bangkit berdiri dan menatap Hendrik penuh kemenangan. "Ya, gak apa. Nanti aku bikin KK baru aja.  Kenapa harus repot-repot, sih?" balas Hellen santai dan melenggang pergi begitu saja.

Hendrik menggeleng melihat kelakuan putrinya itu. Matanya membulat dan ia memanggil putrinya dengan nada panik. "Dek! Hei! Ini gimana caranya? Main pergi aja. Dasar!"

Hellen membalikkan tubuhnya dan menatap Hendrik sembari tersenyum tipis. "Tapi kata Papa, Hellen gak canggih. Papa tanya aja sama Filbert, dia kan lebih sering main Facebook ketimbang aku."

"Ya, gak bisa dong, Dek. Kalau tunggu besok nanti video ini gak bisa dicari lagi," jawab Hendrik frustrasi.

"Papa, tuh, yang gak canggih. Masa gitu aja gak bisa?" ledek Hellen sembari berjalan mendekat, lalu mengambil alih ponsel tersebut.

"Yang ini 'kan yang Papa mau?"—Hellen memperlihatkan video yang ia maksudkan pada Hendrik. Setelah mendapat anggukan, Hellen mengirim url video tersebut pada Filbert, sepupunya.—"Nah, beres, deh. Besok suruh Filbert download buat Papa aja. Aku gak bisa soalnya." Hellen menyodorkan kembali ponsel tersebut pada Hendrik.

Hendrik menerimanya dengan perasaan puas. Ia kembali berselancar di dunia maya sampai suara Hellen menginterupsinya.

"Pa, jadi gak coret aku dari KK? Ini udah aku bawain KK, pulpen, dan tip-ex-nya." Hellen menyodorkan barang-barang yang ia sebutkan pada Hendrik.

Geram. Hendrik pun menjewer telinga putri nakalnya itu. "Dasar anak nakal!" omelnya kesal.

#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge5

 

Banyak kata atau bahkan kalimat yang sering kita ucapkan pada diri kita sendiri untuk menahan diri. Entah ingin menahan diri dari amarah atau pun godaan setan seperti dorongan ingin membeli sesuatu di saat kantong tengah sekarat. Selain itu, bisa juga untuk menahan diri agar tak terlalu sedih.

Ada beberapa kalimat atau kata yang sering aku ucapkan pada diriku sendiri untuk mengatasi kondisi yang sudah kukatakan di atas.

1.       Semua orang sama saja, tak peduli apapun statusnya.

Aku sering mengulang kalimat ini untuk diriku sendiri. Kalimat ini adalah ajaran dari Mama dan Papa. Mereka mengajarkan bahwa semua orang sama saja, tak peduli apapun status sosialnya. Jadi, kita tak boleh memandang remeh seseorang bahkan jika status sosialnya lebih rendah. Sebagai contohnya, Mama selalu menekankan kepada kami bahwa kami harus memperlakukan karyawan sama seperti teman dan keluarga. Mama mengajarkan kepada kami bahwa jika tanpa mereka, kami tak akan mendapatkan apapun. Maka dari itu, kita harus menghargai mereka.

Jika dipikirkan lagi, kalimat tersebut benar adanya. Mau dia seorang bos besar atau bahkan tunawisma sekali pun, kita tetap sama-sama hidup dengan makan nasi, sama-sama hidup dengan menghirup oksigen, sama-sama mati jika tak minum air.

2.       Jika ingin mengambil keputusan yang berhubungan dengan orang lain, lihat dulu dari sisi orang tersebut.

Kalimat ini selalu kuulangi saat hendak mengambil sebuah keputusan. Aku selalu mengulangi kalimat ini, dan mulai melihat dari sisi lainnya ketika mengambil keputusan. Dengan begitu, aku bisa meminimalisir kemungkinan untuk menyakiti perasaan orang. Yah, walau sebenarnya tak bisa menjamin 100% tidak menyakiti orang, tetapi mungkin setidaknya bisa meminimalisirnya—setidaknya begitulah menurutku. Aku hanya berharap dengan begitu aku tak menyakiti banyak orang.

3.       Selesaikan apa yang kamu mulai.

Pantang bagiku mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah. Rasanya pasti ada sesuatu yang mengganjal jika aku melakukan suatu pekerjaan hanya dengan setengah-setengah. Biasanya, ketika aku mulai bosan melakukan hal tersebut. Dengan mengulang-ulang kalimat itu, aku bisa mendorong diriku agar tetap menyelesaikan. Walau membutuhkan waktu yang lama sekali pun, jika hal yang kulakukan itu adalah sesuatu yang tak memiliki masa waktu. Namun, jika hal tersebut memiliki tenggat waktunya, aku akan sebisa mungkin menyelesaikannya tepat waktu bahkan jika hal itu bisa membuatku terjaga semalaman. Aku tetap akan melakukannya.

4.       Jangan terlalu dipikirkan omongan orang lain, toh orang yang mengucapkan hal tersebut belum tentu memikirkannya terlebih dahulu sebelum memuntahkannya.

Kalimat ini sering sekali aku ulangi pada diriku saat ada komentar negatif yang ditujukan padaku. Menurutku, sangatlah rugi sekali jika aku memikirkan komentar negatif yang mereka lemparkan padaku. Padahal, belum tentu mereka memikirkan seperti apa kejadian yang sebenarnya sebelum melontarkan komentar tersebut. Sangat tak bijaksana jika aku memikirkan hal itu, maka dari itu aku memutuskan untuk tak memikirkannya dengan mengulangi kalimat ini.

5.       Kita tak selalu bisa menyenangkan semua orang.

Kalimat ini juga sangat sering kuulangi saat ada saja orang yang mengkritik apapun yang kulakukan. Aku tahu bahwa jika kita melakukan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh ‘A’ belum tentu hal tersebut akan sesuai dengan keinginan ‘B’. Maka dari itu, aku tak ingin hidup dengan memenuhi ekspektasi orang-orang. Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri walau mungkin jalan tersebut tak mulus sama sekali.

 

 

#30daysjournalingchallenge
#day15

 

Hari terbaik? Hmm ... gimana, ya? Semua hari sama aja sih. Tak ada hari yang buruk, begitu juga dengan tak ada hari yang baik. Sepertinya, ini hanya bagaimana perasaan yang kita rasakan saat menjalaninya. Jika kita menjalani hari tersebut dengan perasaan senang, kesimpulannya hari itu adalah hari baik untuk kita. Begitu juga sebaliknya. Jika kita menjalani hari tersebut dengan perasaan yang berat, hari tersebut akan menjadi hari sial atau hari buruk untuk kita.

Simpel bukan? Jadi, menurutku semua hari sama aja. Baik atau buruknya sebuah hari, bisa kita tentukan melalui perasaan saat kita menjalaninya.

Sebenarnya, hari baik maupun hari buruk bisa kita tentukan begitu kita membuka mata di pagi harinya. Jika kita memutuskan untuk bahagia sepanjang hari itu, hari itu akan menjadi hari terbaik kita. Dan jika kita melakukan yang sebaliknya, hari itu akan menjadi hari terburuk kita.

Bagiku, semua sama saja. Tak ada hari baik dan buruk. Mungkin kalian sudah bosan membaca kalimat yang sama berulang kali. Akan tetapi, aku akan tetap mengulanginya. Namun, jika kalian memintaku untuk menentukan sebuah tanggal. Mungkin hari pertama aku menulis.

Kalian mungkin tidak penasaran mengenai alasannya. Akan tetapi, aku tak peduli. Bagiku, hari pertama aku mulai menulis di wattpad adalah hari yang menyenangkan. Dengan menulis, aku bisa lebih bebas. Apalagi jika tulisan tersebut berbentuk fiksi. Aku tak akan mendapatkan kekhawatiran apapun.

Dengan tulisan, aku bisa membalaskan amarahku. Jika ada yang tak kusukai, aku akan membunuhnya berkali-kali dalam tulisanku. Jika ada yang kusukai dan ingin kuingat selamanya, aku akan mencatatnya dalam tulisanku. Dan rasanya amat sangat melegakan serta menyenangkan.

Yak, kurasa mungkin itu saja yang bisa kusampaikan di sini. Setelah hari pertama aku menulis di wattpad. Aku memutuskan bahwa semua hari adalah hari terbaikku. Karena aku sudah memutuskannya seperti itu. Maka jawaban dari pertanyaan hari ini adalah setiap hari.

Ah, mungkin, jika aku tak menulis. Aku akan menjawab hal lainnya sebagai hari terbaikku. Bisa saja itu jawaban yang ekstrim atau bisa saja bukan. Akan tetapi, jawaban itu akan kusimpan untuk kusendiri.

Terima kasih sudah membaca, jika kesal mohon maaf.

#30daysjournalingchallenge
#days14

 

Wah! Susah nih! Agak aneh juga. Aneh 'kan, ya? Minta maaf ke diri sendiri, tetapi sebenarnya ini perlu banget loh. Mengapa? Tentu saja sebagai langkah pertama untuk mencintai diri sendiri.

Pernah gak sih kalian mikir? Kalau misalnya tak ada yang mencintai kalian, bukankah sebaiknya kalian cintai diri kalian sendiri? Jujur, kalau aku sih pernah. Bahkan sering, tetapi bagaimana caranya. Aku tak tahu. Sampai pada akhirnya aku jalan-jalan ke sebuah blog yang mengajarkan bahwa kita harus melakukan self love. Artikel blog tersebut, membuka pikiranku. Kita harus mencintai diri sendiri, tetapi jangan berlebihan. Nanti narsis jatuhnya.

Gimana caranya self love? Salah satunya minta maaf pada diri kita sendiri. Aneh banget, sih?! Yap, aku juga merasa aneh. Apalagi begitu melihat syarat selanjutnya yang berisi harus berterima kasih pada diri sendiri. Bingung? Jelas! Aku juga bingung dan aneh bahkan aku juga sempat meremehkannya. Hehe ....

Hal-hal yang Ingin Kumaafkan dari Diriku.

1. Aku minta maaf karena terlalu keras pada diriku sendiri.
Maaf. Padahal aku tahu kamu tertekan, tetapi aku justru menekanmu lebih jauh lagi karena tak ingin dipandang sebelah mata. Walau begitu, aku berterima kasih karena bisa mencapainya. Sejujurnya, aku tak menyesal karena aku tahu kamu bisa melampauinya. Aku hanya ingin minta maaf padamu. Ayo kita berdamai dan melakukannya dengan cara lainnya. Bukan dengan penekanan seperti biasanya. Kita lakukan hal-hal baik dengan perasaan yang lebih ringan, bukan dengan perasaan tertekan.

2. Aku minta maaf karena tak bisa jujur pada diriku sendiri.
Maaf karena aku tak bisa jujur. Aku takut bisa melukai sekitar, jika aku terlalu jujur. Jadi, aku menekan dirimu agar bisa berbohong demi menyenangkan sekitar. Sedikit banyak, aku menyesali ketidak jujuranku. Aku benar-benar minta maaf. Akan tetapi, mungkin ke depannya aku alan terus seperti ini.
Aku harap kamu tak akan begitu membenciku. Tolong, bantu aku. Walaupun harus membohongi diri sendiri. Aku mohon tolong bantu aku agar bisa melewatinya dengan baik.

3. Aku minta maaf karena membenci diriku sendiri.
Ya. Aku sangat amat minta maaf dan bisa dibilang cukup menyesal karena membenci kehidupanmu. Menurutku, hidupmu berantakan dan aku sangat membencinya. Kamu mempunyai sifat yang buruk dan banyak yang tak suka denganmu. Hidupmu juga bisa dibilang cukup beruntung dan juga cukup sial. Dan aku membencimu karenanya. Maaf. Seharusnya aku tak boleh begitu. Aku sungguh minta maaf.

4. Aku minta maaf karena terus merusakmu.
Maafkan aku karena terus merusak dirimu. Dimulai dari telat makan, malas makan, suka menahan kencing, malas gerak, dan masih banyak lagi. Sungguh, aku minta maaf. Aku akan berusaha memperbaiki diriku agar ke depannya tak begitu lagi. Walau begitu, aku tak bisa menjanjikannya.

5. Aku minta maaf karena bersikap pengecut.
Banyak penyesalanku karena sikap pengecutku ini. Aku benar-benar minta maaf. Jika saja aku tak sepengecut ini, mungkin kamu sudah memiliki banyak pengalaman. Dimulai dari lolos semifinal lomba olimpiade sains. Maaf karena aku sengaja mengagalkanmu karena takut pergi sendiri tanpa ditemani papa. Lalu maafkan aku karena menggagalkanmu lolos beasiswa ke Singapore dengan menggunakan dalih Mama tak akan sanggup membayar biaya asrama dan sebagainya. Walau sudah mengorbankan peringatan kematian Ama* yang ke 49 hari. Sungguh aku menyesal. Maaf karena tak berusaha sekuat tenaga saat ujian N5 Bahasa Jepang. Padahal poin yang kurang hanyalah 2 poin untuk lulus.

*Ama : Nenek (bhs. Hokkian)

#30daysjournalingchallenge
#day13

 

Wah! Pertanyaannya bikin kejang nih. Hahaha ....

Sahabat, ya? Sahabat itu sejenis makanan ringan bukan? Hehe .... Tentu aja bukan. Sahabat itu bisa dibilang sudah setingkat lebih tinggil dibandingkan teman. Teman itu setingkat lebih tinggi daripada kenalan. Dan kenalan setingkat lebih tinggi daripada orang asing. Oke. Cukup bahas masalah gak penting.

Sejujurnya, aku masih memandang rendah mengenai konsep 'berteman', apalagi 'persahabatan'. Melihat orang tuaku yang ditipu habis-habisan oleh teman puluhan tahun mereka, membuatku sedikit takut untuk berteman. Tentu saja, bayangkan saja. Sudah berteman puluhan tahun, tetapi tetap tega 'menjual' keluarga temannya agar terbebas dari lilitan utang. Kejam? Entahlah, mungkin memang begitulah sistem kerja dunia ini.

Lalu, pernah dikecewakan oleh orang yang sudah dianggap teman baik. Padahal dia sendiri tak menganggapku begitu membuat kepercayaan diriku hancur berantakan. Ketika aku melihat dirinya sebagai seorang teman baik, teman kompak yang kemana-mana selalu bersama. Akan tetapi, dia hanya melihatku sebagai adik si 'A' yang bahkan tak layak untuk disebut teman. Sakit? Jelas saja. Oleh karena itu, walau kejadiannya sudah terjadi lewat dari sepuluh tahun, aku masih tetap menganggapnya sebagai orang asing yang bahkan tak perlu kulirik sejak kejadian itu.

"Pendendam banget sih, Ael?"

Pasti banyak dari kalian yang berpikir seperti itu. Walau begitu, aku akan tetap melakukannya. Bukan karena aku dendam padanya, melainkan dia yang memang tak pantas untuk dianggap—menurutku. Kalian pasti berpikir aku terlalu kejam, 'kan? Terserah! Itu hak kalian mau berpikir aku seperti apa. Aku tak akan pernah peduli.

Lalu setelah kejadian-kejadian seperti itu, aku tak bisa dengan percaya dirinya menganggap seseorang sebagai 'teman' atau bahkan 'sahabat'. Seiring berjalannya waktu, aku mengerti sesuatu. Pertemanan yang selama ini kulihat, maksudnya hubungan saling memanfaatkan yang dibungkus dengan kedok teman. Pertemanan tersebut terkadang lebih awet daripada hubungan pertemanan yang hanya memberi saja atau bahkan menerima saja.

Begitulah aku mendapatkan makna seorang teman. Orang yang saling memberi, bukan hanya orang yang menerima saja atau yang memberi saja. Atau bisa saja orang-orang yang dikatakan teman merupakan sekelompok orang yang sedang berada di wadah yang sama. Setiap orang yang bersamaku saat ini, selalu kuberi label—teman sekelas, teman sosmed, teman kerja, dan lain sebagainya. Bisa menjadi teman karena berada di satu sekolah, satu angkatan, satu kelas, satu tempat kerja, teman satu komunitas di sosial media, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Namun sekarang, setelah aku terjun ke dunia sosial media. Aku mulai berpikir, mereka juga kulabeli dengan label 'teman sosmed', tapi apa yang kudapatkan dari mereka atau apa yang mereka dapatkan dariku? Tak ada. Aku mulai belajar pertemanan yang benar dari sini. Dari mereka, aku belajar, bahwa di saat senang kita bisa saling berbagi untuk meningkatkan mood kita. Dan di saat sedih, kita juga boleh berbagi untuk mengurangi beban di hati. Mungkin inilah yang disebut persahabatan. Beberapa orang di antaranya adalah Zul, Fela, Elsa, Ayu, Safa, dan ada beberapa lagi yang lain. (Yang gak kesebut maaf, ya. Hehe....)

Selain itu, dua orang 'teman'—ah, tidak, sahabat maksudku (kurasa mereka layak mendapatkan gelar tersebut)—yang masih setia bersamaku walau jalan yang kita tuju sudah berbeda. Kami sudah berteman hampir 7 tahun, yang awalnya aku kira akan putus, sama seperti pertemananku yang lain, tetapi ternyata tidak. Sungguh, aku senang. Walau kami jarang berbagi cerita. Ketika kami sedang bersedih, kami akan keluar bertiga.

Untuk kalian sahabat-sahabatku, terima kasih. Rasanya menyenangkan menjadi teman kalian. Bisa saja kita tak merasakan hal yang sama, tetapi untuk sekarang aku tak akan peduli lagi. Karena aku tahu dengan jelas bahwa manusia datang dan pergi sesuai keinginan mereka. Jika kalian ingin pergi dari hidupku, kalau bisa pergi baik-baik, ya.

#30daysjournalingchallenge
#day12


 

Pertanyaan yang sulit. Sebenarnya, aku saja tak tahu apa yang aku inginkan untuk besok atau bahkan untuk satu tahun ke depan. Mungkin sudah kubahas dalam postingan sebelumnya. Hal-hal yang ingin aku miliki.

1. Rumah pribadi atas nama orang tuaku.
Alasannya sederhana, aku sudah malas beradaptasi dengan tempat baru. Lagian kupikir, mama dan papa juga sudah cukup tua untuk berpindah-pindah rumah. Jadi aku ingin rumah pribadi untuk kami. Rumah yang benar-benar milik kami sendiri.

2. Tabungan masa depan dengan jumlah yang banyak.
Jumlah yang banyak tuh sebanyak apa?  Tentunya sebanyak mungkin. Jika bisa, aku ingin tabungan tersebut didepositokan aja biar untuk kebutuhan bulanan aku bisa bertahan dari bunganya saja. Jadi, tabungan yang kuinginkan jelas cukup besar bukan?

3. Tempat kerja yang membuatku nyaman dan memberikan gaji yang besar.
Sebenarnya, gaji yang besar atau kecil bagiku sama saja. Hanya saja, Mama mungkin akan khawatir jika anaknya memiliki gaji yang kecil. Wajar sih, aku paham. Jadi, aku memutuskan untuk mengharapkan hal yang seperti itu saja. Walau pekerjaannya berat, aku tak masalah. Yang penting aku nyaman dan bisa memberikan Mama ketenangan soal masalah finansialku.

#30daysjournalingchallenge
#day11

Yo, Gengs! Balik lagi di sesi non-fiksi bersama Ael. Sebenarnya, aku agak males takut bikin non-fiksi, tapi karna tugas, jadi aku buat deh.

Lho, Kok? Tips Sesat?

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa judulnya gitu, 'kan? Ya, jujur aja sih. Karena aku bukan orang yang ahli, jadi tips yang bisa kuberikan hanyalah tips ala kadarnya yang bisa dibilang pasti lumayan sesat karena hanya berdasarkan pengalaman pribadi tanpa adanya data pendukung sama sekali. Akan tetapi, mungkin bagi sedikit dari kalian ini sama sekali tak bisa berguna. Terus, kalau kata Fela sih, "Emang kapan Ael gak sesat?" 😂😂

P.s. Ingat! Tips ini efektif untukku, tetapi belum tentu efektif untuk kalian. Kalau mau coba silakan, kalau gak ya gak maksa. Jadi plis jangan dihujat. Hehe ....

Kosistensi dalam Menulis

Kalian pasti pernah 'kan merasa malas untuk menulis. Atau terkadang mungkin berpikir, "Ah, nanti saja menulisnya kan masih ada waktu". Lalu, pada akhirnya tak ada tulisan yang kalian hasilkan di hari itu. Situasi ini pasti dialami oleh banyak orang, salah satunya aku. Atau mungkin pernah juga alami rencana mau nulis, tapi malah sibuknya minta ampun. Jadinya tulisannya di hari itu tak ada sama sekali.

Lalu, bagaimana baiknya biar bisa konsisten nulis? Berikut aku berikan beberapa tips yang kudapatkan dari pengalaman pribadiku.

1. Sediakan Waktu Sebentar di Sela-sela Kesibukan Kamu.
Tips ini, awalnya aku dapatkan dari salah seorang penulis wattpad yang sudah tenar. Menurutnya, setiap harinya kita harus menulis agar bisa dijadikan kebiasaan. Dengan begitu, jika ada sehari saja kita tak menulis kita akan merasa bahwa ada yang kurang. Dia sendiri sih, dalam satu harinya menulis minimal ada seribu kata. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir,  untuk pemula ini pasti terlalu berat. Jadi, saranku cukup menulis minimal satu paragraf aja. Dan soal waktu, coba sesuaikan dengan jadwal kalian. Berhubung banyak yang bilang banyak ide yang mengalir di saat malam. Coba sediakan waktu 15 menit sebelum tidur untuk menulis setiap harinya.

2. Cari Teman Seperjuangan.
Kalau nulis sendiri, pasti rasanya sangat malas, 'kan? Sama, kok. Aku juga. Hehe .... Kalau gitu, cobalah cari teman seperjuangan. Misalnya, kayak aku baru-baru ini bikin projek fiksi dengan tema 'Berondong Lovers' bersama beberapa teman. Atau coba saja ikut-ikutan challenge menulis setiap hari. Contohnya kayak 30 Days Journaling Challenge yang sedang aku ikuti saat ini dan 31 Days Writting Challenge yang akan aku ikuti di Desember mendatang (Mudah-mudahan challenge ini diadakan, kalau gak aku bakalan teror Kak Andi 😂😂😂😂)
Temen nulis seperjuangan ini, tak perlu banyak. Cukup beberapa saja, tetapi pastikan bahwa niat mereka memang kuat. Jika tidak, ya sama saja. Percayalah, jika satu orang bolong dalam menulisnya, lainnya pasti bakal ikutan.

3. Banyak Ikut Komunitas.
Kalau ini sih, banyak manfaatnya sih. Bisa membuat kita konsisten nulis dengan mengerjakan tugas-tugasnya. Contohnya kayak konten yang ini (Tugas dari komunitas ODOP). Selain itu, bisa juga buat nambah temen yang bisa aja bikin nambah semangat dalam nulis. Terus juga bisa menambah wawasan kita. Selain alasan-alasan itu, bisa juga sebagai wadah untuk saling sharing ketika tak ada ide yang menyapa. Dengan adanya teman sharing ini, kita juga bisa mendapatkan ide baru atau bisa saja ide yang sudah ada menjadi lebih matang.

4. Memberikan Reward kepada Diri Sendiri.
Sejujurnya, tips ini juga aku dapatkan dari hasil mengikuti grup kepenulisan. Reward atau penghargaan. Jika kita mengingat bahwa adanya penghargaan yang akan kita terima, tentunya kita akan menjadi semakin semangat dalam menulis. Cobalah untuk membuat peraturan seperti jika dalam satu minggu full kalian dapat menulis setiap harinya tanpa putus, belilah sesuatu yang kalian inginkan. Entah itu makanan, barang, atau apapun. Tentunya jangan yang mahal-mahal jika tak ingin kantong kalian jebol. Berilah reward berdasarkan keinginan atau kebutuhan kalian sesuai dengan porsi yang telah kalian kerjakan.

5. Sistem Punishment atau Hukuman.
Untuk beberapa orang, mungkin ini akan sangat amat tidak efektif. Kenapa? Karena dengan adanya hukuman kita juga akan menjadi takut untuk mencoba. Akan tetapi, ada beberapa orang yang memang membutuhkan tekanan barulah ia bisa melalukan sesuatu, termaksud kegiatan menulis ini. Cobalah dengan memberikan hukuman kecil. Misalnya jika dalam seminggu kita tak menghasilkan satu paragraf pun, laranglah dirimu melakukan hal yang kamu sukai. Entah itu bermain game, jajan bakso, dan lain sebagainya.

Kayaknya cukup sekian tips sesat ala Ael. Semoga bermanfaat. Kalau tidak, silakan cari di tempat lainnya. Hehe .... Terima kasih sudah membaca.