Aku yang tengah tiduran di kasur terpaksa bangkit karena ditimpuk oleh Ara. Kutatap tajam kakakku yang kurang asem itu. "Apaan?" omelku galak.

"Bosan. Ngapain yuk," ajaknya seraya menarikku agar aku bangkit dari tempat tidur.

Rumah tengah kosong, hanya ada kami berdua. Adikku tengah pergi keluar menemui temannya. Kulirik Ara yang masih setia berdiri di sampingku sembari berpikir apa yang harus kita lakukan.

"Kenapa kita sering banget di rumah, ya?" celutukku tiba-tiba membuat perhatiannya teralihkan padaku.

Ara mengangkat bahu tanda tak tahu. Sedetik kemudian, keningnya berkerut, tanda ia tengah berpikir keras. "Mungkin karna kita gak punya teman," ungkapnya terdengar begitu santai.

Menyedihkan! Walau begitu, aku tak bisa membantah sama sekali. Kita memang jarang bergaul dengan orang lain. Saat kecil, aku hanya punya dia dan dia hanya punya aku. Kami selalu berdua, ke mana pun dan saat melakukan apapun. 

Tak pernah rasa sepi datang menghampiri kami berdua. Entah apa yang kami pikirkan saat itu, tetapi sepertinya kami berdua saja sudah cukup untuk satu sama lain. Apa ini hanya pemikiranku saja, aku tak tahu karena tak pernah menanyakannya.

"Aku kangen bermain sama Lina," ucapku saat nama teman yang sudah bermain denganku sejak SD itu kembali terlintas di otakku.

"Eh? Tiba-tiba?" tanyanya kaget.

Yah, sebenarnya bukan tiba-tiba juga. Entahlah, aku tak tahu. Akan tetapi, sekarang aku sudah tak bisa menemuinya lagi karena Desember tahun kemarin ia telah pergi ke tempat yang jauh. Untuk saat ini, aku hanya bisa mengharapkan ia akan terlahir kembali dengan keadaan yang lebih bahagia karena menurutku dia adalah orang yang baik.
Wah! Pertanyaannya ... bikin speechless. 😢😢😢

Eum .... Menurutku, gimana, ya? Sampai sekarang, aku juga bingung kalau mau sesuai passion atau tuntutan lingkungan. Tapi, sebelum itu, aku agak kurang paham dengan pekerjaan yang sesuai dengan tuntutan lingkungan itu yang gimana? Apa tuntutan lingkungan itu adalah pekerjaan yang menurut orang-orang sekitar bagus atau bagaimana?

Namun, setelah tercerahkan oleh Zul kalau pertanyaan yang sesuai dengan tuntutan lingkungan itu adalah pekerjaan yang menjamur seperti admin dan sebagainya. Jawabanku, sebenarnya sama sih, tergantung.

Lah? Ngajak berantem nih memang. Hahaha .... Emang ngajak berantem, kok. Gak ding. Bercanda.

Ya, jelas jawabanku bakal tergantung. Jika ditanya, tergantung apa. Menurutku ada beberapa pertimbangan.

1. Pekerjaan mana yang lebih cepat aku dapatkan.

2. Gaji yang disediakan oleh pekerjaan tersebut.

3. Sebelum itu, dan yang paling penting, aku harus tahu dulu apa passion aku. Wkwkwkwk


Dan karena alasan terakhir, sampai sekarang, aku masih bekerja dengan sesuai tuntutan lingkungan. Hehe ....



Rumah impian setiap orang pastinya beda-beda, ya. Ini kalimat apaan, sih? Hahaha. Maafkan aku.

Hmm .... Rumah impian, ya? Tentunya rumahnya harus nyaman dan gak berisik. Bersih, sejuk, dan apa, ya?

Kira-kira kalau ditanya keadaannya aku mau rumah yang kayak gitu. Kalau desainnya. Hmmm .... Pertanyaan yang cukup sulit.

Kalau bisa, rumah dengan banyak kamar. Ada ruang tamu, ruang kerja, kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, sama ruang santai. Lah? Terus bedanya sama rumahnya orang-orang apaan?

Weits! Tenang! Sama aja, sih. Gak ada bedanya. Bagiku, daripada rumah. Aku lebih milih kamar impian. 

Aku pengen kamar yang ada 2 lantainya. Lantai pertama untuk aku kerja, di sana harus ada satu meja, satu kursi, terus ada printer. Lalu, ada rak buku sama lemari-lemari tempat aku naruh barang-barang.
Di lantai duanya, tentu aja harus ada tempat tidur dan sofa. Pokoknya lantai dua harus jadi tempat aku bersantai dan bersenang-senang.

Oh, iya. Aku juga ingin kamar yang ada balkon kecilnya di depan dan menghadap ke luar. Kalau bisa, sih. Pemandangan di luar harus cantik. Nah, di balkon itu juga ingin ada kursi yang nyaman untuk diduduki serta meja kecil yang bisa dipake buat kerja sama tempat naruh makan.

Hobi, ya? Hmm ... Tentu aja nulis. Jangan tanya kenapa! Eh, gak, ding. Canda. Boleh kok tanya. Wkwkwk

Kalau ditanya kenapa nulis? Jawabannya simpel. Karena dengan menulis, aku merasa lebih bebas. Aku bisa nuangin apa aja yang mengganjal di hati dan pikiran aku. Bebas. Gak akan ada yang protes ataupun sakit hati. 

Tentu saja gak semua tulisan bisa aku publikasikan. Ada beberapa jenis tulisan yang boleh dan tak boleh dipublikasikan. Aku juga mengerti hal tersebut.

Tulisan yang tak boleh dipublikasikan bagiku, adalah tulisan-tulisan yang berisikan tentang pandangan negatif aku ke orang-orang yang kutuliskan secara non-fiksi atau boleh dibilang curhatan aku mengenai kepribadian orang lain. Alasan aku tak boleh mempublikasikan tulisan tersebut. Tentu saja, karena tulisan tersebut akan membuat orang-orang salah paham. Karena apa yang kulihat dari seseorang, belum tentu juga dilihat oleh orang lain. Dan takutnya, tulisan itu akan menjadi acuan orang-orang untuk menilainya.

Lalu, tulisan yang boleh dipublikasikan menurutku itu ya sekedar tulisan fiksi atau tulisan yang memuat informasi.

Kalau ditanya, lebih suka fiksi atau non-fiksi, non-fiksi yang aku maksud di sini adalah tulisan yang membuat informasi, jawabanku adalah fiksi. Menulis fiksi menurutku lebih bebas. Jika aku sedang marah, aku tinggal mengubah objek amarahku menjadi tokoh. Kemudian menyiksanya habis-habisan. Anggap aja aku kejam atau apapun, terserah. Toh aku tak peduli. Yang penting aku bisa lega dan tak memendam semuanya sendirian.Lagi pula, membunuh di atas kertas tokohku tak membuatku kena hukuman apapun bukan?
Wah! Pertanyaan sulit, nih! Hahaha
Yah, jujur. Ini emang sulit banget. Lebih bagus dapat 100 pertanyaan mata pelajaran fisika. Sumpah! Gak boong! Eh, boong, ding! Hahaha

Mau dibilang sulit, gak juga, sih. Karna sebagai seorang anak, tentu saja cinta pertamaku itu orang tua. Dan sebagai seorang adik, tentu saja cinta pertamaku itu kakakku.

Loh? Kok jawabannya gak jelas gitu? Ya, memang. Pertanyaannya aja gak spesifik. Hahaha. Gak, ding. Canda. 

Yah, mari kita berpikir dari sisi yang lain. Kenapa saat pertanyaan ini diajukan, semua orang malah mengelak? Atau semua malah bertanya, kenapa pertanyaannya gini, sih? Padahal ini pertanyaannya simpel, loh.
 
Loh? Kok bisa? Bisa lah! Ayo, kita cari tahu dulu apa arti dari cinta itu sendiri. Nah, Cinta itu apa sih?

Pengertian Cinta

Menurut Wikipedia, Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.
Nah, ini adalah cinta menurut wikipedia, emosi atau kasih sayang. Di sini gak dikatakan harus kepada lawan jenis, 'kan? Jadi, siapa aja boleh. Terus kalau sudah gini, masih susah juga jawabnya? Harusnya gak, dong.
 
Lalu, menurut KBBI sendiri. cinta/cin·ta/ a 1 suka sekali; sayang benar: orang tuaku cukup – kepada kami semua; -- kepada sesama makhluk; 2 kasih sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan): sebenarnya dia tidak -- kepada lelaki itu, tetapi hanya menginginkan hartanya; 3 ingin sekali; berharap sekali; rindu: makin ditindas makin terasa betapa -- nya akan kemerdekaan; 4 kl susah hati (khawatir); risau: tiada terperikan lagi -- nya ditinggalkan ayahnya itu;-- bebas hubungan antara pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku;
-- monyet (rasa) kasih antara laki-laki dan perempuan ketika masih kanak-kanak (mudah berubah);
 
 Gimana? Sudah baca sendiri, 'kan? So, di pemikiran kalian cinta itu masih harus melulu soal lawan jenis? Atau sudah berubah? Kuharap berubah, ya. Kesimpulan dari pengertian tersebut. Cinta itu kasih sayang dan bukan melulu soal ke lawan jenis.

Cinta Pertamaku

Sekarang, kita balik lagi ke pertanyaan itu. Menurutku, sebagai seorang anak, adik, atau kakak. Tentu saja, cinta pertamaku itu keluargaku. Kenapa? Tentu saja, karena mereka adalah orang-orang yang patut kusayangi. (Yang ini aku gak bohong)

Walau keluargaku gak sempurna, dan memang gak ada keluarga yang sempurna. Kami sering berantem dan berselisih paham. Bahkan bisa juga sampai saling mendiamkan satu sama lain. Akan tetapi, mereka tetap orang pertama yang bakal selalu ada buat aku. Bisa dibilang rumah tempatku kembali. Tempat pertama di mana aku merasakan kasih sayang.

Jadi, begitulah jawabanku. Mau berapa kali kalian tanya pun. Jawabanku tetap satu, keluarga. Walau aku gak bisa memungkiri kalau mereka juga bisa saja jadi patah hati pertamaku. Tetap saja, mereka adalah cinta pertamaku yang mengajariku apa itu kasih sayang dan perasaan lainnya.
Dear you,

Hola! Apa kabar? Semoga baik, ya. 
 
Apa kamu baik-baik aja? Jangan bohong, ya! Gak apa kok kalau emang kamu gak baik-baik aja. Kalau emang mau nangis, nangis aja. Gak apa. Jangan malu, jangan takut. Gak bakal ada yang marah dan gak akan ada yang cela kamu, kok. Kalau emang ada, berarti jawabannya cuma satu. Dia bukan orang. Hehe..

Kamu lelah gak? Kalau lelah istirahat aja nah. Gak masalah, kok, kalau cuma istirahat bentar aja. Gak bakal ada yang marah. Kalau ada yang marah, sekali lagi aku bilangin. Dia bukan orang. Jadi, abaikan aja.

Ah! Aku mau kasih tahu sesuatu ke kamu. Kamu gak sendiri, loh. Ada aku, ada temen-temen, dan keluarga kamu. Jadi, apapun yang terjadi, jangan menyerah ya. Semua bakal baik-baik aja. Semua bakal indah pada waktunya.

Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini. Terima kasih karna gak berhenti di tengah jalan. Ayo sekarang kita berjuang bersama. Mari jalan sambil bergandengan tangan dan saling menyemangati.

Ingat, ya! Kamu gak sendiri.


With love,
Me

Tempat yang sangat ingin kukunjungi ya? Hmmm .... Entahlah. Suatu tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk. Tempat yang dingin dan nyaman.